sidebar .widget{ padding:5px 5px 5px 5px; border:1px solid #C11209; margin-bottom:5px

Pages

Ads 468x60px

Rabu, 22 April 2015

TEORI PIAGET MENGENAI PEMBELAJARAN IPA

(Sumber: https://adinafirda.wordpress.com/2012/06/08/teori-piaget-mengenai-pembelajaran-ipa/PUBLISHED JUNI 8, umber: 2012 BY ADINAFIRDA)
  • Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan  kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi.  Kecenderungan anak anak SD beranjak dari hal-hal yang konkrit, memandang sesuatu kebutuhan secara terpadu. Berdasarkan keceenderungan diatas maka, belajara adalah suatu proses yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung pada aktifitas mental peserta didik.
  • Struktur Kognitif:
struktur Kognitif merupakan kelompok ingatan yang tersusun dan saling berhubungan, aksi dan strategi yang dipakai oleh anak-anak untuk memahami dunia sekitarnya.
  • Pada bayi:
struktur kognitif yang dimiliki adalah refleks.
Contoh: bayi secara otomatis mengisap benda-benda yang menyentuh bibirnya. Selain, menjangkau, menyepak, melihat, dan memukul merupakan kegiatan sensorimotor yang terorganisir. Struktur kognitif ini cepat di modofikasi ketika bayi tumbuh dan berinteraksi dengan dunia. Pada masa anak-anak sudah mulai ada pemahaman dan kegiatan mental.
  • Proses kognitif
Pada bayi: mula-mula mempunyai respon menghisap, respon melihat, respon menggapai, respon memegang, yang berfungsi secara terpisah. Lama-lama respon ini akan diorganisasikan kedalam sistem yang lebih tinggi yang merupakan kooordinasi dari respon-respon tersebut.
Contoh: bayi yang menjangkau botol susu memasukkannya kedalam mulutnya untuk diisap.
  • Tahap-tahap pekembangan menurut Piaget:
Ada 4 tahap perkembangan kognitif anak-anak.
1. Sensorimotor (0-2 tahun):anak mengadaptasi dunia luar melalui perbuatan, belum mengenal bahasa, tidak berfikir tentang dunia luar, Diakhir tahap ini mulai mempunyai /mengenal bahasa
2. Pra Operasional ( 2-7 tahun ) : mulai meningkatkan kosa kota, mengelompokkan benda-benda berdasarkan sifat-sifat, Mulai memiliki pengetahuan fisik mengenai sifat-sifat benda danmulai memahami tingkah laku dan organisme dalam lingkungannya, Tidak berfikir balik, Tidak berfikir tentang bagian-bagian dan keseluruhan secaraserentak , Mempunyai pandangan subyektif dan egosentrik.
3. Operasi Konkret ( 6-11 atau 6-12 tahun): Mulai memandang dunia secara obyektif , Mulai berfikir secara operasional, Membentuk hubungan aturan-aturan, prinsip ilmu sederhana dan mempergunakan hubungan  sebab  akibat.Memahami konsep substansi, volume, panjang lebar luas dan berat.
4. Operasi Formal ( 11 – 14 tahun keatas ): Mempergunakan pemikiran yang lebih tinggi dari tahapsebelumnya.Membentuk hipotesa, dapat menghubungkan bukti dengan teori.Dapat bekerja dengan ratio, proporsi dan probabilitas. Membangun dan memahami penjelasan yang rumit.
  • Dalam pembelajaran IPA pergunakanlah :
1. Mulailah dari hal-hal yang konkretyaitu kegiatan aktif mempergunakan pancaindra dengan benda nyata atau konkret.
2. Penata awalYaitu suatu informasi umum mengenaiapa yang akan diajarkan, agar murid mempunyai kerangkakerja untuk mengasimilasikan informasi baru ke dalam struktur kognitifnya.
3. Pergunakanlah kegiatan  yang bervariasi karena murid mempunyaiitingkat perkembangan kognitif yang berbeda dan gaya belajar yang berlainan.



1.      A.    Teori Brunner mengenai pembelajaran IPA

  • TEORI BELAJAR MENURUT BRUNER
Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan, sebagaimana nampak dalam
pandangannya tentang perkembangan kognitif anak dan ahli psikologi belajar
kognitif. Yang penting baginya ialah cara – carabagaimana orang memilih, mempertahankan dan mentranspormasi informasi secaraaktif dan inilah menurut Bruner inti dari belajar. Bruner memusatkan perhatiannyapada masalah apa yang dilakukan oleh manusia dengan informasi yang diterimanyadan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi untuk mencapaipemahaman.
A. BEBERAPA TEORI BRUNER
1. Empat Tema Tentang Pendidikan
Bruner mengemukakan empat tema pendidika tema – tema tersebut adalah :
a. Struktur pengetahuan
Kurikulum hendaknya mementingkan struktur pengetahuan. Hal ini perlu
sebab dengan struktur pengetahuan kita menolong para siswa untuk melihat
bagaimana fakta – fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat
dihubungkan satu dengan yang lain dan pada informasi yang telah mereka
miliki.
b. Kesiapan (readines) untuk belajar
Menurut Bruner (Dahar ; 1989 : 98), kesiapan terdiri atas penguasaan
keterampilan – kereampilan yang lebih sederhana yang dapat mengijinkan
seseorang untuk mencapai keterampilan – keterampilan yang lebih tinggi.
c. Intuisi dalam proses pendidikan
Dengan intuisi dimakusdkan oleh Bruner, teknik – teknik intelektual untuk
sampai pada formulasi – formulasi tentatif tanpa melalui langkah – langkah
analitis untuk mengetahui apakah formulasi – fomulasi itu merupakan
kesimpulan – kesimpulan yang sahih atau tidak.
d. Motivasi atau keinginan untuk belajar
Pengalaman pendidikan yang menyebabkan terjadinya motivasi adalah pengalaman – pengalaman dimana siswa berpartisipasi secara aktif.Menurut Bruner pengalaman belajar semacam ini misalnya pengalamanbelajar penemuan.
2. Model dan Kategori
Teori Bruner didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama ialah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, asumsi kedua ialahbahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasiyang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Hal ini yang disebut dengan kerangka kognitif yang oleh Bruner disebut Model of theWorld”atau model alam. Setiap model seseorang khas bagi dirinya.Dalam menciptakan kerangka kognitif ini manusia tidak membiarkan dirididominasi oleh lingkup hidup tetapi bersikap menyoroti apa yang dijumpainyadan bertekad memberikan suatu makna pada pengalamannya. Pengalaman yang
diberi makna itu bertambah – tambah dan bertumpuk – tumpuk sehingga lamakelamaan menyerupai suatu bangunan mental yang bagian – bagiannyaterintegrasi satu sama lain. Bangunan struktural ini dapat dibayangkan suatu arsipyang luas secara kualitaitf dan kuantitatif atau sebagai ingatan (memory)padakomputer dengan kapasitas megabit yang besar. Di dalam mengembangkanbangunan mental ini pembentukan konsep memegang peranan yang besar,demikian pula pengembangan sistematika untuk menumpang konsep – konsepdalam susunan hierarkis (semacam peta konsep) mengingat isi konsep dan petakonsep berbeda beda pada setiap orang, maka kerangka kognitif tidak ada yangseluruhnya sama diantara orang – orang. Setiap bangunan mental bersifatindividual, sehingga cara menanggapi sesuatu secara obyektif sama dapat sangatberlainan (Winkel).Kerangka kognitif yang telah terbentuk, tidak bersifat statis dan dapatberubah, lebih – lebih pada manusia muda yang masih belajar di sekolah.Perubahan ini terjadi karena pergeseran pada konsep yang sudah dimiliki dan padasusunan hierarki konsep yang digunakan sebelumnya. Selama belajar siswa harusmenemukan sendiri struktur dasar dari materi pelajaran dan akhirnya dari bidang
studi bersangkutan melalui corak berpikir yang disebut ”berpikir induktif”(induktive reasoning) corak berfikir bertitik tolak dari sejumlah contoh danmencari kaidah yang terkandung dalam contoh – contoh itu.Dengan kata lain menurut Dahar (1989 : 100), pendekatan Bruner terhadapbelajar dapat diuraikan sebagai suatu pendekatan kategorisasi. Brunerberanggapan bahwa semua interaksi – interaksi kita dengan alam melibatkankategori – kategori yang di butuhkan bagi pempungsian manusia. Kategorisasimenyederhanakan kekompleksan dalam lingkungan kita. Karena sistem kategorikita dapat mengenal obyek – obyek baru. Oleh karena obyek – obyek barumemiliki kemiripan dengan obyek – obyek yang telah ada, kita dapatmengklasifikasikan dan memberikan ciri – ciri tertentu pada benda – benda ataugagasan baru.Ringkasnya, Bruner beranggapan bahwa belajar merupakan pengembangankategori – kategori dan pengembangan suatu sistem pengkodean(Coding).
Berbagai kategori saling berkaitan sedemikian rupa, sehingga setiap individumempunyai model yang unik tentang alam. Dalam model ini belajar baru dapatterjadi dengan mengubah model itu. Hal ini terjadi melalui pengubahan kategori –kategori, menghubungkan kategori dengan suatu cara baru atau denganmenambahkan kategori – kategori baru. Jadi pendapat Dahar dan pendapat Winkeltentang pendekatan Bruner hampir mirip.
3. Belajar Sebagai Proses Kognitif
Bruner mengemukakan, bahwa belajar melibatkan tiga proses yangberlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah
(1) Memperoleh informasibaru,
(2) Transfomasi informasi, dan
(3) Menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan (Bruner dalam Dahar ; 1989 : 101).Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yangdimiliki seseorang atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehinggaberlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Sebagaicontoh seorang setelah mempelajari bahwa darah itu beredar, barulah ia
mempelajari secara terperinci sistem peredaran atau sistem sirkulasi darah.Demikian pula, setelah berpikir bahwa energi itu di buang – buang atau tidak dihemat, baru ia belajar teori konservasi energi.Dalam transpormasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agarcocok atau sesuai dengan tugas baru. Jadi, transpormasi menyangkut cara kitamemperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi, atau denganmengubah menjadi bentuk lain. Kita menguji relevansi dan ketepatan pengetahuandengan menilai apakan cara kita memperlakukan pengetahuan itu cocok dengantugas yang ada.Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau petumbuhan kognitifsebagai konseptulisme instrumental. Pandangan ini berpusat pada dua prinsip,yaitu :
(1) Pengtahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model – modeltentang kenyataan yang di bangunnya, dan
(2) Model – model semaca itu mula –mula di adopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model – model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan.Persepsi seseorang tentang suatu peristiwa merupakan sesuatu proseskonstruktif. Dalam proses ini orang itu menyusun suatu suatu hipotesis denganmenghubungkan data inderanya pada model yang telah disusunya tentang alam,lalu menguji hipotesisnya terhadap sifat – sifat tambahan dari peristiwa itu. Jadi,seorang pengamat itu tidak di pandang sebagai organisme reaktif yang pasif tetapisebagai seorang yang memilih informasi secara aktif, dan membentuk hipotesis
perseptual.
4. Belajar Penemuan
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah modeldari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discoverylearning) (Dahar ; 1989 : 103)Bruner menganggap, bahwa belajar penemuanseusuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengansendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencaripemecahan masalah serta pengetahuhan yang menyertainya, menghasilkanpengetahuan yang benar – benar bermakna. Belajar bermakna dengan arti sepertidi atas, merupakan satu – satunya macam belajar yang mendapat perhatian Bruner.
Bruner menyarankan agar siswa – siswa hendaknya belajar melaluiberpartisipasi secara aktif dengan konsep – konsep dan prinsip – prinsip, agarmereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen –eksperimen yang mengijinkan mereka untuk menemukan prinsip – prinsip itusendiri.

  • Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukan beberapa kebaikan yaitu:
Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat di ingat, ataulebih mudah di ingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajaridengan cara – cara lain.
Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transferyang lebih baik daripada hasil belajar lainnya. Dengan lain perkataan, konsep –konsep dan prinsip yang dijadikan milik kognitif seseorang lebih mudahditerapkan pada situasi – situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajarpenemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secarabebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan – keterampilankognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah.



0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates