sidebar .widget{ padding:5px 5px 5px 5px; border:1px solid #C11209; margin-bottom:5px

Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

Sabtu, 02 Mei 2015

Tagihan Generik PTK

Berikut rekap tagihan peserta dari pertemuan I s.d VI (Generik PTK) :

GENERIK PTK  (Pert. 1 s.d 6)
Pert Ke
Topik
No
Jenis Tagihan
I
Pengenalan Model Pembelajaran BERMUTU
1.
Lembar observasi pembelajaran di kelas
2
Case study
II
Identifikasi Masalah
1.
Mengidentifikasi masalah dari case study yang dibuat sampai membuat kalimat rumusan masalah.
2.
Hasil kajian kritis suatu tulisan atau buku
III
Rencana Tindakan
1.
Menyempurnakan skenario dan perangkat pembelajaran.
2.
Menyusun instrumen untuk pengambilan data.
3.
Mempersiapkan pelaksanaan tindakan di kelasnya.
IV
Pelaksanaan Tindakan
1.
Setiap peserta ditugaskan untuk menerapkan skenario pembelajaran di kelasnya dan diobservasi oleh satu orang teman (pasangan)
2.
Hasil observasi dituangkan dalam lembar observasi atau disusun dalam Case Study
V
Analisis & Interprestasi Data
1.
Tugas terstruktur yang berikan berupa tugas untuk melanjutkan atau menyempurnakan hasil latihan analisis dan interpretasi data, dengan menggunakan data hasil pelaksanaan tindakan dari kelas masing-masing. Kemudian menuliskan hasilnya secara dalam bentuk narasi
VI
Refleksi dan Tindak Lanjut
1.
Menyusun kembali uraian refleksi  dan rencana tindak  lanjut berdasarkan masukan dari guru peserta lain dan guru pemandu
Download 8 tagihan KKG

Bagaimanakah Membuat Proposal PTK?

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan. Karena itu guru dituntut untuk mampu membuat proposal PTK-nya sendiri guna memecahkan masalah yang ada dalam proses pembelajarannya. Dalam membuat proposal PTK biasanya para guru mengacu kepada format PTK dari Depdiknas yang terdiri dari : A. JUDUL PENELITIAN Setelah kita membahas bagaimana cara menemukan masalah, langkah selanjutnya adalah membuat Judul Penelitian. Dalam membuat judul penelitian, beberapa hal yang harus diketahui adalah judul itu harus: 1. Komunikatif, mudah dipahami maksudnya oleh pembaca 2. Memuat variabel penelitian 3. Menjawab apa yang ingin ditingkatkan 4. Dengan cara apa/upaya apa untuk meningkatkannya. 5. Sasaran dan Lokasi tercermin dalam judul; 6. Banyak kata sekitar 15-20 kata Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi. Alasan pemilihan judul juga harus: • Menarik minat • Layak diteliti • Bermanfaat bagi masyarakat, dll. Contoh judul penelitian Tindakan kelas antara lain : 1. Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS) Pokok Bahasan Kimia Lingkungan Melalui Pembuatan Film tentang Pencemaran Lingkungan Sekitar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak 1 SMK Negeri 8 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007 (Oleh : Ardan Sirodjuddin, S.Pd.) 2. Pembelajaran Berbasis Project Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi Kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari Tahun Pelajaran 2007/2008 (Oleh : Dra. Sri Wahyuni Dwiyanti M.Pd). 3. Penggunaan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas III IPS SMA Negeri 1 Randublatung Pada Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. (Oleh : Juremi) 4. Penggunaan ”Dakon Elektron” Dalam meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA Kelas I Kecantikan Kulit Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2004/2005 SMK Negeri 1 Tegal (Oleh : Ibnu Hajar Dewantoro). B. BIDANG ILMU Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti dan kajian masalah yang diteliti. Bidang penelitian yang diteliti sebaiknya relevan dengan disiplin ilmu guru, misalnya guru matematika tidak membahas pembelajaran yang ada di pelajaran Biologi. Begitupun sebaliknya. Terkecuali penelitian yang ditekuninya masih ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Contohnya pembuatan media pembelajaran. C. PENDAHULUAN Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan harus dikemukakan: 1. Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi: a. Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester, mata pelajaran yang ditunjang dan mata pelajaran penunjang); b. Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan); c. Metode pembelajaran yang digunakan saat ini. 2. Masalah yang dihadapi guru ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran. Kriteria masalah yang dapat dibuat PTK adalah : • Masalah di sekolah/di kelas • Layak diteliti dan terjangkau PTK • Perlu ada: identifikasi masalah; analisis masalah. • Rumusan masalah: singkat; jelas; operasional. • Bukan permasalahan individual siswa, tetapi masalah kelas; E. CARA PEMECAHAN MASALAH D. PERUMUSAN MASALAH Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah tersebut. Pada perumusan masalah perlu diperhatikan : Substansi: Perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipilih untuk meningkatkan dan/atau memperbaiki pembelajaran Orisinalitas (tindakan): Perlu mempertimbangkan belum pernah tidaknya tindakan dilakukan guru sebelumnya Formulasi: dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya, dan tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut Teknis: Mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian, seperti kemampuan metodologi penelitian, penguasan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran, kemampuan menyediakan fasilitas (dana, waktu, dan tenaga). Contoh perumusan masalah : • Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan prestasi belajar geografi khusus kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan pada siswa kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ? • Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ? • Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kualitas proses belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara? • Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 5 Jepara?Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas (yang meliputi: perencanaan-tindakan-observasi/ evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik. F. TINJAUAN PUSTAKA Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisipasi. G. TUJUAN PENELITIAN Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya. H. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini. I. METODE PENELITIAN Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus. J. JADWAL PENELITIAN Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Contohnya, jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan. K. PERSONALIA PENELITIAN Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan. Lampiran-lampiran 1. Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian. 2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti 3. Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan telah dihasilkan sampai saat ini

Pendekatan KPS

Seperti SAPA (Science A Process Approach) pendekatan keterampilan proses sains (KPS) merupakan pendekatgn pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA. Namun dalam tujuan dan pelaksanaannya terdapat perbedaan. SAPA tidak mementingkan konsep apa yang akan dicapai, sedangkan pendekatan KPS justru menggunnakan – keterampilan proses untuk memahami konsep atau mempelajari konsep. Selain itu SAPA menuntut pengembangan pendekatan proses secara utuh yaitu metode ilmiah dalam setiap pelaksanaannya, sedangkan jenis-jenis keterampilan proses dalam pendekatan KPS dapat dikembangkan secara terpisah-pisah, bergantung metode yang digunakan. Umpamanya dalam metode demonstrasi dapat dikembangkan keterampilan proses tertentu (observasi, interpretasi, komunikasi, aplikasi konsep). JENIS-JENIS KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KARAKTERISTIKNYA Keterampilan proses terdiri dari sejumiah keterampilan yang satu sama lain sebenarnya tak dapat dipisahkan, namun ada penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan tersebut (Nuryani,1995). 1. Melakukan pengamatan (observasi) Menggunakan indera penglihatan, pembau, pendengar , pengecap, dan peraba pada waktu mengamati ciri-ciri obyek merupakan kegiatan yang sangat dituntut dalam belajar IPA.Menggunakan fakta yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan juga termasuk keterampilan proses mengamati. 2. Menafsirkan pengamatan (interpretasi) Mencatat setiap hasil pengamatan tentang fermentasi secara terpisah antara hasil utama dan hasil sampingan termasuk menafsirkan atau interpretasi. Menghubung‑hubungkan hasil pengamatan tentang bentuk alat‑alat gerak dengan habitatnya menunjukkan bahwa siswa melakukan interpretasi, begitu pula jika siswa menemukan pola atau keteraturan dari satu seri pengamatan tentang jenis‑jenis makanan berbagai burung, misalnya semuanya bergizi tinggi, dan menyimpulkan bahwa makanan bergizi diperlukan oleh burung. 3. Mengelompokkan (klasifikasi) Penggolongan mahluk hidup dilakukan setelah siswa mengenali cirri-cirinya. Dengan demikian dalam proses mengelompokkan tercakup beberapa kegiatan seperti mencariperbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan. 4. Meramalkan (prediksi) Keterampilan meramalkan atau prediksi mencakup : keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu kecenderungan atau pola vang sudah ada. Memperkirakan bahwa besok matahari akan terbit pada jam tertentu di sebelah timur merupakan contoh prediksi. 5. Berkomunikasi Membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan atau pernafasan termasuk berkomunikasi dalam pembelajaran IPA. Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel atau diagram juga termasuk berkomunikasi. Selain itu termasuk ke dalam berkomunikasi juga adalah menjelaskan hasil percobaan,misalnya memerikan tahap‑tahap perkembangan daun, termasuk menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis dan jelas. 6. Berhipotesis Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variable, atau mengajuka perkiraan penyebab sesuatu terjadi. Dengan berhipotesisi diungkapkan cara melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkandung cara untuk mengujinya. Apabila ingin diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh, dapat dibuat hipotesis. “Jika diberikan pupuk NPK, maka tumbuhan akan lebih cepat tumbuh”. Dalam hipotesis tersebut terdapat dua variable (faktor pupuk dan cepat tumbuh), ada perkiraan penyebabnya (meningkatkan), serta mengandung cara untuk mengujinya (diberi pupuk NPK). 7. Merencanakan percobaan atau penyelidikan Beberapa kegiatan menggunakan pikiran termasuk ke dalam keterampilan proses merencanakan penyelidikan. Apabila dalam lembar kegiatan siswa tidak dituliskan alat dan bahan secara khusus, tetapi tersirat dalam masalah yang dikemukakan, berarti siswa diminta merencanakan dengan cara menenetukan alat dan bahan untuk penyelidikan tersebut. Menentukan variabel atau peubah yang terlibat dalam suatu percobaan tentang pengaruh pupuk terhadap laju pertumbuhan tanaman juga termasuk kegiatan merancang penyelidikan. Selanjutnya menentukan variable kontrol dan variable bebas, menentukan apa yang diamati, diukur atau ditulis, serta menentukan cara dan langkah kerja juga termasuk merencanakan penyelidikan. Sebagaimana dalam penyusunan rencana kegiatan penelitian perlu ditentukan cara mengolah data untuk dapat disimpulkan, maka dalam merencanakan penyelidikan pun terlibat kegiatan menentukan cara mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan. 8. Menerapkan konsep atau prinsip Setelah memahami konsep pembakaran zat makanan menghasilkan kalori, barulah seorang siswa dapat menghitung jumlah kalori yang dihasilkan sejumlah gram bahan makanan yang mengandung zat makanan. Apabila seseorang siswa mampu menjelaskan peristiwa baru (misal banjir) dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki (erosi) dan pengangkutan oleh air, berarti ia menerapkan prinsip yang telah dipelajarinya. Begitu pula apabila siswa menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru. 9. Mengajukan pertanyaan Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan tentang apa, mengapa, bagaimanaataupun menanyakan latar belakang hipotesis. Pertanyaan yang meminta penjelasan tentang pembahasan ekosistem menunjukkan bahwa siswa ingin mengetahui dengan jelas tentang hal itu. Pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana keseimbangan ekosistem dapat dijaga menunjukkan si penanya berpikir. Pertanyaan tentang latar belakang hipotesis menunjukkan si penanya sudah memiliki gagasan atau perkiraan untuk menguji atau memeriksanya. Dengan demikian jelaslah bahwa bertanya tidak sekedar bertanya, tapi melibatkan pikiran. PENGUKURAN KETERAMPILAN PROSES (KPS) Untuk. mengukur ketermpilan proses perlu dibahas karakteristik butir soal KPS, penyusunan butir soal KPS, dan pemberian skor butir soal KPS (Rustaman, 2004). 1. Karakteristik Pokok Uji Keterampilan Proses Sains Karakteristik pokok uji KPS akan dibahas secara umum dan secara khusus. Secara umum pembahasan pokok uji biasa yang mengukur penguasaan konsep. Secara khusus karakterisik jenis keterampilan proses tertentu akan dibahas akan dibandingkan satu sama lain, sehingga jelas perbedaannya. a. Karakteristik umum Secara umum butir soal keterampilan proses dapat dibedakan dari pokok uji penguasaan konsep.Pokok uji pokok uji keterampilan proses memiliki beberapa karakteristik, yaitu : 1. Pokok uji keterampilan proses tidak boleh dibebani konsep (non concept burdan). Hal ini diupayakan agar pokok uji tersebut tidak rancu dengan pengukuran penguasaan konsepnya. Konsep dijadikan konteks. Konsep yang terlibat harus diyakini oleh penyusunan pokok uji sudah dipelajari siswa atau tidak asing bagi siswa (dekat dengan keadaan sehari-hari siswa). 2. Pokok uji KPS mengandung sejumlah informasi yang harus diolah oleh responden atau siswa. Informasi dalam pokok uji keterampilan proses dapat berupa gambar, diagram, grafik, data dalam tabel atau uraian, atau obyek aslinya. 3. Seperti pokok uji pada umumnya, aspek yang akan diukur oleh pokok uji KPS harus jelas dan hanya mengandung satu aspek saja, misalnya interpretasi. 4. Sebaiknya ditampilkan gambar untuk.membantu menghadirkan obyek. b. Karakteristik khusus • Observasi Harus dari objek atau peristiwa sesungguhnya • Interpretasi Harus menyajikan sejumlah data untuk memperlihatkan pola • Klasifikasi Harus ada kesempatan mencari/menemukan persamaan dan perbedaan, atau diberikan kriteria tertentu untuk melakukan pengelompokkan, atau ditentukan jumlah kelompok yang harus terbentuk. • Prediksi Harus jelas pola/kecenderungan untuk dapat mengajukan dugaan/ ramalan • Berkomunikasi Harus ada satu bentuk penyajian tertentu untuk diubah ke penyajian lainnya, misalnya bentuk uraian ke bentuk bagan atau bentuk tabel ke bentuk grafik Berhipotesis Dapat merumuskan dugaan atau jawaban sementara, atau menguji pemyataan yang ada dan mengandung hubungan dua variable atau lebih, biasanya mengandung cara kerja untuk menguji atau membuktikan Merencanakan percobaan atau penyelidikan Harus memberi kesempatan untuk mengusulkan gagasan berkenaan dengan alat/bahan yang akan digunakan, urutan prosedur yang harus ditempuh, menentukan peubah (variable), mengendalikan peubah. Menerapkan konsep atau prinsip Harus memuat konsep/prinsip yang akan diterapkan tanpa menyebutkan nama konsepnya. Mengajukan pertanyaan Harus memunculkan sesuatu yang mengherankan, mustahil, tidak biasa atau kontradiktif agar responden atau siswa termotivasi untuk bertanya. 2. Penggunaan Pokok Uji Keterampilan Proses Sains Penyusunan pokok uji KPS menuntut penguasaan masing-masing jenis keterampilan prosesnya (termasuk pengembangannya). Sebaiknya dipilih satu konsep proses yang akan diukur, sajikan sejumlah inforrnasi yang perlu diolah. Setelah itu disiapkan pertanyaan atau suruhan yang dimaksud.kan untuk memperoleh respon atau jawaban yang diharapkan. Tentukan pula bagaimana bentuk respon yang diminta : memberi tanda silang atau menuliskan jawaban singkat, atau bentuk lainnya. Umpamanya akan disusun poko uji keterampilan observasi tentang bagian-bagian bunga. Berikan satu tangkai bunga sesungguhnya untuk diperiksa (informasi). Sebaiknya dipilih bunga yang kontras dan memiliki bau khas. Ajukan pertanyaan mengenai jumlah kelopak, jumlah dan keadaan mahkota bunga, bentuk kepala sari, keadaan kepala putik, dan ciri khas bunga tersebut. Respon diminta dalam bentuk jawaban singkat lima buah berurutan ke bawah dari a sampai e. 3. Proses Sains Pemberian Skor Pokok Uji Keterampilan Sebagaimana pokok uji pada umumnya, pokok uji keterampilan proses perlu di beri skor dengan cara tertentu. Setiap respon yang benar diberi skor dengan bobot tertentu, umpamanya masing-masing 1 untuk pokok uji observasi di atas yang berarti jumlah skornya 5. Untuk respon yang lebih kompleks, misalnya membuat pertanyaan, dapat diberi skor bervariasi berdasarkan tingkat kesulitannya. Umpamanya pertanyaan berlatar belakang hipotesis diberi skor 3; pertanyaan apa, mengapa, bagaimana diberi skor 2; pertanyaan yang meminta penjelasan diberi skor 1.

Sembilan Langkah Menyusun Proposal PTK

(Sumber: https://kkgsatubojonegoro.wordpress.com/2012/05/09/sembilan-langkah-menyusun-proposal-ptk/)
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi profesional. Guru yang profesional mampu mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif. Salah satu indikatornya adalah guru melakukan penelitian, mengembangkan karya inovasi, mengikuti kegiatan ilmiah (misalnya seminar, konferensi), dan aktif dalam melaksanakan PKB.
Banyak tuntutan yang ditujukan kepada guru agar dapat melaksanakan penelitian tindakan kelas. Namun pada kenyataanya tak jarang guru-guru masih kesulitan untuk melaksanakannya. Banyak pertanyaan dari rekan guru, dari mana memulainya PTK? Bagaimana caranya melaksanakannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga sudah banyak terjawab melalui workshop-workhsop, dan diklat-diklat yang telah ada. Baik yang dilaksanakan sesama guru atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan peningkatan keprofesionalan guru.
Sebelum melaksanakan PTK, guru dapat memulai dengan menyusun proposal PTK. Proposal merupakan bahan dasar dari laporan penelitian. Laporan PTK akan menjadi lebih mudah disusun apabila guru telah memiliki proposal yang disusun di awal pelaksanaan.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam menyusun proposal adalah:
Pertama adalah menyusun judul, kalimat judul harus mengandung setidaknya 3 aspek, yakni masalah yang dipecahkan, cara mengatasi atau rencana tindakan, dan sasaran atau subyek penelitian.
Contoh Judul:
  • Meningkatkan pemahaman tentang FPB dan KPK pada siswa kelas IV SDN 2 Kec. ………….. melalui model konstruktivis.
  • Meningkatkan keterampilan fakta dasar perkalian siswa kelas IV SDN 50 kota ……………………. melalui model permainan.
  • Diagnosis penyebab kesalahan siswa dan remidinya dalam perkalian susun ke bawah cara pendek di kelas IV SDN 25 Kab……………………..
Kedua menyusun latar belakang, latar belakang umumnya berisikan uraian, antara lain tentang:
  •  Kondisi ideal dan kondisi riil pendidikan atau pembelajaran yang saat ini berkembang di sekolah.
  •  Permasalahan-permasalahan pembelajaran yang muncul atau ditemukan, beserta uraian tentang kemungkinan-kemungkinan penyebabnya.
  • Dampaknya jika masalah pembelajaran tersebut tidak segera diatasi.
Ketiga menyusun rumusan masalah, rumusan masalah ditulis berdasarkan rumusan kalimat masalah yang telah dibuat. Contoh : 1) Apa saja yang menjadi penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek? 2) Strategi pembelajaran apa yang dapat dilakukan untuk memberi motivasi sehingga dapat memperbaiki penyebab kesalahan siswa tersebut?
Keempat menyusun tujuan penelitian, tujuan penelitian disesuaikan dengan rumusan masalahnya. Contoh : 1) Mendiskripsikan penyebab kesalahan siswa pada perkalian susun ke bawah dengan cara pendek. 2) Mencari strategi pembelajaran yang dapat memberi motivasi kepada siswa dalam perkalian susun ke bawah dengan cara pendek di kelas IV SD.
Kelima menyusun manfaat PTK, manfaat PTK dapat dikaitkan dengan manfaat bagi anak didik, bagi guru sendiri dan guru-guru yang lain, dan bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan secara umum. Contoh: 1) Mengungkap kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tentang perkalian susun ke bawah dengan cara pendek. 2) Strategi pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis dan teori Bruner dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam perkalian susun ke bawah dengan cara pendek.
Keenam menyusun kajian pustaka, kajian pustaka yang terlalu teoritik pada PTK (penelitian yang praktis) untuk guru dalam memperbaiki pembelajaran tidak terlalu penting jika guru merasa terlalu terbebani. Jika hasil kajian buku sumber yang terkait dengan tema terlalu sedikit dapat dimasukkan pada latar belakang. Untuk menulis atau menyusun kajian pustaka guru peserta perlu membaca beberapa buku sumber atau artikel yang terkait dengan topik dan permasalahan PTK. Kajian pustka sebaiknya dari sumber yang terkini kira-kira 10 tahun terakhir.
Misalnya: topik PTK tentang ”perkalian susun ke bawah dengan cara pendek menggunakan pendekatan konstruktivis”, maka guru peserta disarankan berusaha mencari buku sumber, membaca dan menguraikannya dalam kajian pustaka tentang pengertian perkalian susun ke bawah dan konstruktivis. Jika masalah peningkatan belajar perkalian susun ke bawah dengan cara pendek hendak dilakukan dengan penggunaan model pembelajaran konstruktivis, maka dalam kajian pustaka guru peserta harus merujuk dan mengulas tentang pembelajaran konstruktivis dan kelebihannya.
Ketujuh menyusun metode penelitian, metode penelitian berisi deskripsi tentang :
  •   Subyek Penelitian
  •   Lokasi Penlitian dan Jadwal Pelaksanaan
  •   Data dan Sumber Data
  •   Instrumen Penelitian
  •   Teknik Analisis Data
  •   Tahap-tahap Penelitian (Siklus I, Siklus II (dilakukan sesuai hasil refleksi Siklus I))
  •   Perkiraan Biaya Penelitian (jika digunakan untuk mengusulkan dana ke sponsor)
  •   Personalia Penelitian
Kedepalan jadwal penelitian, jadwal penelitiannya disusun dalam bentuk Gantt Chart.
Kesembilan daftar rujukan/pustaka, penulisan daftar pustaka sesuai ketentuan.
Demikian langkah yang dapat dilakukan guru-guru untuk menyusun proposal PTK, semoga bermanfaat.
Salam KKG, semoga sukses.

Jurnal Reflektif sebagai Modal Penulisan PTK

(Sumber: https://kkgsatubojonegoro.wordpress.com/2012/10/14/jurnal-reflektif-sebagai-modal-penulisan-ptk/)
Penulis: Moh. Zamzuri
Dalam sejarah ada istilah semakin lama umur sejarah semakin tinggi nilainya ini kata saya lho. Hari ini saya tak ingin membicarakan sejarah, apalagi berkaitan dengan ilmu sejarah. Kita bicara yang ringan-ringan saja, supaya mata kita tetap terang benderang seperti lampu stadion Letjen Sudirman Bojonegoro. Kalau ringan bicaranya banyak yang gayeng, itu sih kalau di warung kopinya Bu Komariyah sebelah barat terminal Temayang, he..he..bukan bermaksud mempromosikan tapi kenyataannya memang demikian. Entah apa yang menjadi magnet daya pikat orang-orang desa dari yang tua sampai yang muda betah berlama-lama padahal belinya secangkir. Warung kopi itu memang istimewa, tidak ada gurunya tapi banyak tema yang dibicarakan.
Ini juga tak ada kaitannya dengan warung kopi, tetapi kita bisa belajar dari apa yang membuat orang betah diwarung kopi, ya itu tadi bicaranya ringan-ringan bahkan sambil guyon, tapi banyak lho deal-deal besar berasalal dari warung kopi yang kecil.
Sudah ya kita membicarakan warung kopinya. Jika bapak/ibu seorang pendidik setiap hari mengajar siswa lengkap dengan administrasi yang metinting silabus, promes, jurnal, dan perangkat pembelajaran lainnya. Ketika Bapak/Ibu ditanya sudah bisa membuat PTK? pastinya sedikit sekali yang berani menjawab sudah. Gak bisa, gak teko mikire..biarkan yang muda-muda itu saja kata-kata ini juga tak sedikit yang muncul dari percakapan Bapak/Ibu yang notabene pendidik.
Kalau ditanya PTK pembicaraannya menjadi tak semenarik lagi seperti di warung kopi. Sebenarnya Bapak/Ibu guru telah memiliki modal besar untuk membuat PTK, tetapi karena perhatian Bapak/Ibu pada struktur tata cara dan bagaimana menyusunnya PTK, modal besar yang sudah Bapak/Ibu guru miliki menjadi tak berarti lagi.
Modal besar yang Bapak/Ibu guru miliki seperti pembicaraan di warung kopi yang ringan tadi. Tetapi Bapak/Ibu belum memberdayakannya. Modal besar yang saya maksud adalah catatan-catatan selama Bapak/Ibu guru melaksanakan pembelajaran. Bapak/Ibu bisa memodifikasi jurnal yang telah Bapak/Ibu miliki selama ini menjadi lebih reflektif. Sebagai guru yang inovatif sudah semestinya Bapak/Ibu berani berinovasi dengan hal-hal yang tidak seperti yang dulu-dulu. Bukan yang dulu tak memiliki arti, tetapi lebih pada manfaat dalam pembuatan jurnal yang reflektif.
Jurnal Refkektif dapat disusun dengan berbagai model misalnya tabel atau lajur ke bawah. Bagaimana Bapak/Ibu teknik pembuatan jurnal reflektif, misalnya:
Hari, Tanggal                  : Tuliskan hari dan tanggal pelaksanaan
Kelas/Semester             : Tuliskan kelas dan semester
Mata Pelajaran              : Tuliskan mata pelajaran yang diajarkan
Kompetensi Dasar       : Tulis kompetensi dasar ingin dicapai
Indikator                         : Tuliskan indikator pembelajaran
Materi Ajar                    : Tuliskan secara singkat materi yang diajarkan
Kegiatan Pembelajaran : Narasikan pengalaman belajar termasuk metod, strategi, model-model yang dilaksanakan.
Refleksi/Tindak Lanjut    : Tuliskan kekurangan dan kelebihan serta hasil yang dicapai dengan metode, strategi, model untuk diberikan tindak lanjut perbaikan atau pengayaan program yang akan datang.
Harapannya dengan menulis hal-hal yang ringan suatu saat akan memiliki nilai yang berharga seperti sejarah hee…hee.. itulah modal dasar Bapak/Ibu untuk menulis Penelitian Tindakan Kelas.
Mudah bukan?….horeeeeeeeeeeeeeeeeee…….plok..plok…plok…

Mari Memahami Model-Model Pembelajaran dan Sintaknya

(Sumber: https://kkgsatubojonegoro.wordpress.com/2012/09/09/mari-memahami-model-model-pembelajaran-dan-sintaknya/)
Oleh: Moh. Zamzuri
Dewasa ini kemampuan guru terus menjadi sorotan masyarakat luas. Terlebih setelah pelaksanaan uji kompetensi guru bagi guru-guru yang bersertifikasi sebagaimana diberitakan  dalam (Tempo.co03/08/2012) dengan judul Hasil Uji Kompetensi Guru Masih di Bawah Harapan. Menanggapi hasil yang di bawah harapan ini Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penjaminan Mutu Pendidik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Syawal Gultom berencana akan mengadakan pelatihan dan pendidikan bagi guru pada 2013. Syawal mengatakan, guru-guru akan dikelompokkan berdasarkan hasil UKG. “Yang lemah pada satu materi tertentu, misalnya aljabar, akan disatukan dan mengikuti pelatihan bersama,”
Salah satu kompetensi yang diujikan dalam Uji Kompetensi Guru adalah Kompetensi Profesional. Kompetensi professional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran. Keaktifan peserta didik harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan  strategi pembelajaran yang tepat. Dengan demikian guru hendaknya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Modal dasar guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang PAKEM adalah dapat dengan menggunakan model-model pembelajaran. Model pembelajaran adalah seperangkat lengkap komponen strategi, yang merupakan metode lengkap dengan semua bagiannya yang dijelaskan secara rinci. Atau, model pembelajaran adalah seperangkat lengkap komponen strategi yang dapat memberikan hasil lebih baik di bawah kondisi tertentu sebagaimana dinyatakan dalam (Reigeluth, 1983;21) “Instructional models is merely a set of strategy components; it is a complete method with all of its parts (elementary components) described in detailAn instructional models usually an integrated set of strategy component has betters (for desired outcomes) than any other set under given conditions.” Sependapat dengan pengertian tersebut, Joyce & Weil (1982) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Zainsyah, A.E., dkk. (1984) mengemukakan definisi model pembelajaran yaitu suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur pengajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Menurut (Reigeluth, 1983), model pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu (1) model pembelajaran yang bersifat fix (pasti), artinya model ini mempreskripsikan variabel-variabel metode yang sama yang akan dilakukan/terjadi pada siswa saat pembelajaran, dan (2) adaptif (menyesuaikan) artinya model ini mempreskripsikan varibel-variabel metode berbeda bergantung pada respon tindakan siswa. Sedangkan menurut (Joyce & Weil, 1982), model pembelajaran dikelompokkan menjadi empat kelompok atau rumpun, yaitu: (1) model interaksi sosial atau social family, (2) model pemrosesan informasi atau information processing family, (3) model pribadi atau personal family, dan (4) model perilaku atau behavioral system family.
Model pembelajaran memiliki lima unsur dasar (Joyce & Weil, 1982), yaitu (1) syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, (3) principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, (4) support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional dannurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang ditetapkan (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang ditetapkan (nurturant effects).
Di bawah ini akan dijelaskan langkah-langkah (sintaks) pembelajaran dari beberapa model pembelajaran, sebagaimana berikut ini.
Pembelajaran model group-investigation (Slavin, 1995).
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya, yaitu:
  • Grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber  memilih topik, merumuskan permasalahan),
  • Planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya),
  • Investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi),
  • Organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis),
  • Presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan), dan
  • Evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Pembelajaran kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD), (Slavin, 1995).
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya, yaitu:
  • Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok dengan anggota yang heterogen (misalnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang).
  • Guru menyajikan pelajaran.
  • Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
  • Siswa yang dapat mengerjakan tugas/soal menjelaskan kepada anggota kelompok lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  • Guru memberikan kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis/pertanyaan, siswa tidak boleh saling membantu.
  • Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki nilai/poin tinggi.
  • Guru memberikan evaluasi.
  • Penutup.
Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw (Aronson, et. al., 1978 dalam Chotimah & Dwitasari, 2009)
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya, yaitu:
  • Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok (misalnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang)
  • Tiap siswa dalam kelompok diberi bahan materi yang berbeda (kelompok asal).
  • Tiap siswa dalam kelompok membaca dan mempelajari materi yang ditugaskan.
  • Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari materi yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan bagian materi yang sama tersebut.
  • Setelah selesai diskusi dalam kelompok ahli, setiap siswa kembali ke kelompok asal. Selanjutnya, mereka bergantian mengajar teman satu kelompok tentang materi yang telah ia pelajari/diskusikan dalam kelompok ahli. Sementara itu, anggota kelompok lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kemudian membuat rangkuman.
  • Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.
  • Guru dan siswa membuat kesimpulan.
  • Guru memberikan evaluasi.
  • Penutup.
Pembelajaran problem-based instruction (Arend et.al., 2001).
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya,yaitu:
  • Guru mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yangberkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih, bisa untuk pertemuan satu, dua, atau tiga minggu, bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa),
  • Guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan surve dan pengukuran),
  • Guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya),
  • Pengorganisasian laporan (makalah, laporan lisan, model, program komputer, dan lain-lain), dan
  • Presentasi (dalam kelas melibatkan semua siswa, guru, bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat).
Pembelajaran Tematik menurut (Depdiknas, 2006)
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya, yaitu:
a.  Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi
b.   Kegiatan Inti
Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai  strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.
c.   Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.
Pembelajaran terpadu menurut (Tim Pengembang PGSD, 1997)
Prosedur Pembelajaran Terpadu Menurut Modelnya, yaitu:
Model
Pembelajaran Terpadu
Tahap PerencanaanTahap PelaksanaanTahap Kulminasi
Model hubungan
(connected model)
  • §  Peta konsep satu bidang studi,
  • §  Konsep, keterampilan , dan sikap yang berhubungan atau berkaitan,
  • Rancangan aktivitas belajar
  • §  Pelaksanaan tugas
  • §  Analisis hasil pelaksanaan tugas
  • Penyusunan laporan
  • §  Penyajian laporan
  • §  Evaluasi
Model jaring laba-laba
(webbed model)
  • §  Penjajagan tema
  • §  Penetapan tema
  • §  Pengembangan sub-sub tema
  • Penetapan kegiatan/kontrak belajar
  • §  Pengumpulan informasi
  • §  Pengolahan informasi
  • §  Penyusunan laporan
  • §  Penyajian informasi
  • §  Evaluasi

Model terpadu
(integreted model)
  • §  Peta konsep beberapa bidang studi
  • §  Konsep, keterampilan, dan sikap yang berhubungan atau tumpang tindih
  • Rancangan aktivitas belajar
  • §  Pelaksanaan tugas
  • §  Analisis hasil pelaksanaan tugas
  • Penyusunan laporan
  • §  Penyajian laporan
  • §  Evaluasi
Pembelajaran Problem Based Learning  (PBL), menurut (Tegeh, 2009)
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya, yaitu:
TAHAPPROSEDUR
PEMBELAJARAN
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
1 Konsep dasar
  • Guru menyampaikan langkah pembelajaran secara umum, kompetensi yang harus dikuasai siswa, petunjuk pembelajaran yang dibutuhkan.
  • Siswa membentuk kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang mahasiswa.
2Pendefinisian masalah
  • Guru memberikan masalah berkenaan dengan materi mata pelajaran yang dibahas kepada setiap kelompok dalam bentuk lembar kerja siswa (LKS).
  • Siswa melakukan brainstorming dalam kelompok masing-masing, mencermati masalah yang diberikan, mengatur strategi pemecahan masalah, dan melakukan pembagian tugas
  • Peran guru adalah sebagai fasilitator dalam pembelajaran.
3Membimbing penyelidikan
dalam kelompok dan
pengerjaan tugas
  • Guru memantau dan mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, dan mencari penjelasan dan solusi dari permasalahan yang ingin dipecahkan.
  • Siswa melakukan aktivitas dalam kelompok sesuai dengan strategi pemecahan masalah yang telah ditetapkan.
4Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
  • Guru membimbing siswa dalam mengembangkan karya yang sesuai seperti: laporan hasil kerja kelompok atau bentuk karya lainya.
  • Siswa menyajikan hasil karya kelompok dalam suatu forum diskusi kelas.
5 Menganalisis dan
mengevaluasi hasil
pemecahan
masalah
  • Guru membimbing siswa untuk merefleksi  dan mengadakan evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses belajar yang mereka pergunakan.
  • Siswa merefleksi dan mengevaluasi kegiatan yang telah  mereka lakukan dalam proses pembelajaran.
6Penilaian
  • Siswa menyerahkan laporan hasil pemecahan masalah yang telah dikerjakan secara berkelompok atau tugas-tugas individu lainnya.
  • Guru melakukan penilaian otentik berupa hasil karya siswa secara individu dan kelompok yang diwujudkan dalam bentuk portofolio
Pembelajaran Ekspositori, (Tegeh, 2009)
Langkah-langkah (sintaks) pembelajarannya,yaitu:
TAHAPPROSEDUR
PEMBELAJARAN
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
1Pendahuluan
  • Guru menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai siswa, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, apersepsi, mengarahkan perhatian siswa.
  • Siswa memperhatikan dan mendengarkan informasi guru.
2Penyajian materi
  • Guru menyampaikan materi dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi atau cara lainnya untuk memperjelas materi yang disajikan.
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru, mencatat materi yang dianggap penting, dan menanyakan materi yang kurang jelas atau belum dipahami.
3 Latihan Terbimbing

  • Guru memberikan bahan latihan soal (soal-soal latihan). Latihan soal ada yang dilakukan secara individu dan ada pula secara berkelompok.
  • Siswa mengerjakan latihan.
  • Guru memonitor latihan siswa, memberikan umpan balik, mengajarkan kembali bila diperlukan, dan melanjutkan latihan terbimbing, hingga siswa dianggap menguasai materi.
4Penutup
  • Guru merangkum materi pembelajaran
5Latihan Mandiri

  • Guru kembali memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan siswa secara mandiri.
  • Siswa mencatat tugas atau latihan. Tugas atau latihan dapat dikerjakan di kelas atau di rumah tanpa bantuan guru.
  • Guru melakukan pengecekan untuk pemahaman dan memberikan umpan balik, bila tugas dikerjakan di kelas. Umpan balik diberikan pada pertemuan berikutnya bila tugas dikerjakan di rumah.
6Penilaian
  • Guru melakukan penilaian untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah dipelajari
Pembelajaran melalui Penemuan atau inquiry (Suryanti, dkk, 2008)
Langkah-langkah (tahap) pembelajarannya, yaitu:
TahapTingkah laku Guru
Tahap 1
Observasi untuk menemukan masalah
Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah
Tahap 2
Merumuskan masalah
Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikan
Tahap 3
Mengajukan hipotesis
Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskan
Tahap 4
Merencanakan pemecahan masalah
Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalah, membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat.
Tahap 5
Melaksanakan eksperimen (atau cara pemecahan masalah yang lain)
Selama siswa bekerja, guru membimbing dan memfasilitasi.

Tahap 6
Melakukan pengamatan dan pengumpulan data
Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan dan mengorganisasi data.
Tahap 7
Analisis Data
Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep.
Tahap 8
Penarikan kesimpulan
Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin ditanamkan.
Pembelajaran OME-AKE (Yulianto, dkk. 2008 dalam Suryanti, dkk, 2008)
Langkah-langkah (fase) pembelajarannya, yaitu:
TahapKegiatan pembelajaran
Fase 1
Orientasi
Pengondisian kelas, penyampaian tujuan, penganalisisan tujuan, pengaitan/hubungan materi sebelumnya dengan materi baru
Fase 2
Model (pemodelan)
Siswa melakukan penjiplakan (copying), pengadaptasian, baru kemudian pengembangan keterampilan sendiri. Pemodelan dapat dilakukan dengan pemutaran kased/CD/VCD, pendemonstratsian, menghadirkan narasumber/praktisi/model, atau penganalisisan model.
Fase 3
Eksplorasi topik
Siswa mengeksplorasi/menggali sumber-sumber belajar
Fase 4
Analisis dan Pemecahan masalah topik
Siswa mengklasifikasi topik, mencari bahan pemecahan topik, merumuskan pemecahan topik, dan menyusun laporan lisan maupun tertulis.
Fase 5
Komunikasi (Pengomunikasian Hasil)
Pemapaparan hasil secara lisan maupun pemajangan hasil secara tertulis, misalnya presentasi, demonstrasi, pameran, atau bermain peran.
Fase 6
Evaluasi/Refleksi
Penyimpulan materi dan kegiatan pembelajaran, penilaian kegiatan dan hasil belajar, tindak lanjut pembelajaran.
Demikianlah beberapa model pembelajaran yang berorientasi PAKEM beserta sintaknya. Harapannya guru senantiasa meningkatkan terus kompetensinya termasuk kompetensi professional sehingga mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Daftar Pustaka
Arends, R. I., Wenitzky, N. E., & Tannenboum, M. D. 2001. Exploring teaching: An introduction to education. New York: McGraw-Hill Companies.
Chotimah, H. & Dwitasari, Y. 2009. Strategi Pembelajaran untuk Penelitian Tindakan Kelas. Malang. Surya Pena Gemilang Publishing.
Depdiknas. 2006. Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal sekolah Dasar. Jakarta. Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan pengembangan.
Degeng, I N. S. 1989. Ilmu Pengajaran: Taksonomi variabel. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti, Proyek Pengembangan lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan.
Gerlach, V.S. & Ely, D.P. 1971. Teaching And media A Systematic Approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Joyce, B. & Weil, M. 1982. Model of teachings. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Reigeluth, C. M. 1983. Instructioanl-design theories and models: An overview of their current status. Volume I. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers
Slavin, R. E. 1995. Cooperative learningSecond edition. Boston: Allyn and Bacon.
Suryanti, dkk., 2008. Model-Model pembelajaran Inovatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.
Tegeh, I.M. 2009. Perbandingan Prestasi Belajar Mahasiswa yang Diajar dengan Menggunakan Problem Based-Learning dan Ekspositori yang Memiliki Gaya Kognitif Berbeda. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Tim Pengembang PGSD, 1997. Pembelajaran Terpadu D-II & S2 PGSD. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
 
Blogger Templates