sidebar .widget{ padding:5px 5px 5px 5px; border:1px solid #C11209; margin-bottom:5px

Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 25 April 2015

Penerapan metode Inquiry dalam pembelajaran Sains di Sekolah Dasar

http://zhoney.blogspot.com/2010/09/penerapan-metode-inquiry-dalam.html

A. Kelebihan dan Kekurangan Metode Mengajar Inquiry
Metode mengajar inquiry mengandung proses mental yang tingkatannya cukup tinggi. Proses mental yang ada pada inquiry diantaranya : merumuskan masalah, membuat hipotesis, mendesain eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dalam pembelajaran inquiry, kegiatan belajar mengajar harus direncanakan agar siswa memperoleh pengalaman, sehingga berkesempatan untuk mengalami proses inquiry.
Dalam pembelajaran inquiry, guru jarang menerangkan tetapi banyak mengajukan pertanyaan. Dengan pertanyaan, guru dapat membantu siswa dalam berpikir. Guru dapat mengajukan pertanyaan yang sesuai pada setiap individu siswa, sehingga mampu mengorganisasi pendapat serta dapat meningkatkan pengertian terhadap segala sesuatu yang sedang dibahas. Dan siswa mampu menemukan sendiri konsep/prinsip yang direncanakan guru untuk dimiliki siswa.
Diskusi dalam pembelajaran inquiry, guru mengarahkan kegiatan mental siswa sesuai dengan perencanaan. Siswa lebih banyak terlibat, sehingga tidak hanya mendengarkan ceramah dari guru, melainkan mendapat kesempatan untuk berpikir. Siswa dapat merumuskan jawaban dari masalah yang disajikan dalam diskusi. Karena ’dipaksa berpikir’, perkembangan kognitif setiap individu lebih dimungkinkan terlaksana. Keuntungan menggunakan metode mengajar inquiry adalah :
  1. Perkembangan cara berpikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan mengumpulkan/memproses keterangan dengan inquiry approach dapat dikembangkan seluas-luasnya.
  2. Dapat melatih siswa untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat mengembangkan pendidikan demokrasi.
Selain keuntungan diskusi dalam pembelajaran inquiry pun mempunyai kelemahannya, yaitu :
  1. Belajar mengajar dengan inquiry approach memerlukan kecerdasan siswa yang tinggi. Bila siswa kurang cerdas, hasilnya kurang efektif.
  2. Inquiry approach kurang cocok pada siswa yang usianya terlalu muda, misalnya Sekolah Dasar (SD) kelas 1, 2, dan 3.
B. Penerapan Metode Mengajar Inquiry dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Sains bisa disebut juga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, Sehingga Sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. (Depdiknas, CD ROM KTSP 2006).
Sains diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan Sains perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep Sains dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran Sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran Sains di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Sains di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Mata Pelajaran Sains di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
  1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
  2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat
  4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
  5. Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
  6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
  7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Adapun ruang lingkup bahan kajian Sains untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut :
  1. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
  2. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas
  3. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana
  4. Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.
Tidak semua materi dalam pelajaran Sains bisa disampaikan dengan metode inquiry. Hanya materi-materi tertentu yang mungkin disampaikan dengan metode inquiry. Kemudian tidak semua jenjang di Sekolah Dasar (SD) cocok menerapkan metode inquiry dalam pelajaran Sains. Yang cocok menerapkan metode inquiry dalam pelajaran Sains adalah kelas 4, 5 dan 6, terutama kelas 6 yang paling cocok menerapkan metode inquiry dalam pembelajaran Sains.
Penulis mengambil materi pelajaran Sains dari kelas 6 untuk disampaikan dengan menggunakan metode inquiry. Alokasi waktu adalah 2 jam pelajaran. Dengan rincian sebagai berikut :
1. Standar Kompetensi
Memahami energi dan perubahannya.

2. Kompetensi Dasar
Menyelidiki berbagai cara perpindahan energi panas dan listrik.

3. Indikator
a. Menunjukkan gejala kelistrikan, misalnya : pengaruh menggosok benda.
b. Mengidentifikasi berbagai sumber energi listrik.

4. Materi Pokok
Perpindahan energi panas dan listrik.

5. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Inquiry

6. Tujuan Pembelajaran
a. Mengetahui gejala kelistrikan, misalnya : pengaruh menggosok benda.
b. Mengetahui berbagai sumber energi listrik.

7. Alat dan Sumber Belajar
a. Buku paket Sains kelas VI
b. Penggaris plastik
c. Sobekan kertas

8. Langkah-langkah Kegiatan
a. Kegiatan Awal
1) Siswa diminta berdoa dipimpin oleh ketua kelas.
2) Absensi.
3) Apersepsi. Beberapa siswa ditanya satu per satu secara acak tentang pelajaran sebelumnya tentang perpindahan panas. Siswa diperkenalkan materi pelajaran hariini.

b. Kegiatan Inti
1) Siswa diberi penjelasan singkat tentang energi listrik dan gejala kelistrikan.
2) Siswa dibantu guru melakukan percobaan penggaris yang digosokkan ke rambut untuk dapat menarik sobekan kertas.
3) Siswa diberi penjelasan singkat oleh guru tentang sumber-sumber energi listrik.
4) Kelompok diminta mendiskusikan sumber-sumber energi listrik dan menuliskannya dalam selembar kertas.
5) Perwakilan masing-masing kelompok mengungkapkan hasil diskusinya di depan kelas dan mengumpulkannya kepada guru.

c. Kegiatan Akhir
1) Post test lisan. Guru menunjuk secara acak satu per satu siswa untuk ditanya tentang pemahaman dan kesimpulan mereka atas serangkaian kegiatan yang telah mereka lakukan tadi.
2) Siswa diminta untuk menyimpulkan tentang materi perpindahan energi panas dan listrik melalui metode inquiry tadi.

Dari serangkaian kegiatan pembelajaran sains dengan penggunaan metode inquiry di atas, dari mulai kegiatan awal, inti hingga kegiatan akhir, namapak jelas bahwa siswa lah yang lebih banyak aktif. Guru lebih bersikap pasif dan berperan sebagai fasilitator. Dari mulai penemuan masalah dengan percobaan (eksperimen) sampai menemukan kesimpulan dengan cara diskusi menunjukkan bahwa memang siswa lah yang bersikap aktif. Guru hanya berusaha mencoba merangsang proses mental dan intelektual dengan banyak bertanya kepada para siswa secara acak. Inilah esensi dari metode mengajar inquiry.

C. Hambatan-hambatan yang Muncul pada Penerapan Metode Mengajar Inquiry dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Kegiatan inquiry pada pelajaran Sains kelas 6 yang telah dijabarkan pada sub bab diatas, berpotensi menimbulkan hambatan-hambatan sebagai berikut :
  1. Kemungkinan sebagian siswa tidak berperan serta aktif dalam metode inquiry ini sehingga justru menghambat jalannya pengajaran melalui metode ini.
  2. Tingkat kedewasaan siswa kurang mencukupi untuk metode inquiry ini. Tuntutan peran terlalu tinggi sehingga siswa tidak mampu menjalankan peran ini dengan baik.
  3. Persiapan dan penjelasan yang kurang dari guru bisa membuat metode inquiry ini terhambat. Siswa harus diberi penjelasan yang cukup sebelum acara dimulai. Guru harus membantu persiapan sematang mungkin supaya proses pembelajaran bisa berjalan dengan lancar.
  4. Adanya keengganan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam metode inquiry ini. Siswa seringkali tidak bersedia untuk ikut serta dalam metode inquiry ini yang telah dirancang, walaupun guru menganggap siswa tersebut mampu berperan serta.
  5. Kurang kompetennya guru dalam merancang dan mengendalikan metode inquiry ini dapat menyebabkan terhambatnya proses pembelajaran.
Sumber : http://syaifulhijrah.blogspot.com/

PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

KONSEP PEMBELAJARAN DAN BEBERAPA PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PEMBELAJARAN IPA SD
(Sumber: http://sitinurjannahfkippgsd.blogspot.com/2015/02/pendekatan-yang-digunakan-dalam_20.html#)

A.    Pengertian Konsep Pembelajaran IPA SD
Konsep dapat didefinisikan sebagai suatu gagasan/ ide yang relativesempurna dan bermakna, selain itu konsep juga merupakan suatu pengertian tentang suatu objek, Dari Wikipedia bahasa Indonesiadijelaskan bahwa konsep merupakan abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas,  kejadian atau hubungan.
Sedangkan pembelajaran menurut Sudjana merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar. Menurut Gulo, pembelajaran adalah usaha untuk menciptakan system lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar.
Menurut Nasution, pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga terjadi proses belajar. Yang di maksud lingkungan di sini adalah ruang belajar, guru, alat peraga, perpustakaan, laboraturium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.
Biggs membagi konsep pembelajaran dalam kegita pengertian yaitu :
1.      Pengertian kuantitaif
Penularan pengetahuan dari guru kepada siswa. Guru dituntut menguasai ilmu yang disampaikan kepada siswa, sehingga memberikan hasil yang optimal.
2.      Pengertian institusional
Penataan segala kemampuan mengajar sehingga berjalan efisien. Guru selalu harus siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar.
3.      Pengertian kualitatif
Upaya guru untuk memudahkan belajar siswa. Peran guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga melibatkan siswa dalam aktivitas belajar yang efektif dan efisien. Kesimpulannya, pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan system lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil yang optimal.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, konsep pembelajaran adalah gagasan sempurna dan bermakna yang digunakan dalam upaya sadar sehingga terjadi proses belajar untuk menciptakan system lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar.



B.     Beberapa Pendekatan yang Digunakan dalam Pembelajaran IPA SD

1.      Pengertian Pendekatan
Menurut DR. Wina Sanjaya, M.Pd dalam bukunya StrategiPembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.
Menurut Drs. Asep Jihad, M.Pd dan Dr. Abdul Haris, M.Sc dalam bukunya Evaluasi Pembelajaran, pendekatan adalah suatu antar usaha dalam aktivitas kajian, atau interaksi, relasi dalam suasana tertentu, dengan individu atau kelompok melalui penggunaan metode-metode tertentu secara efektif. Pendekatan juga bisa diartikan suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru juga siswa untuk mencapai tujuan pengajaran apabila kita melihatnya dari sudut bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu dikelola.
Pendekatan pembelajaran adalah upaya yang dilakukan guna membuat siswa terlibat secara aktif dan berminat dalam mengikuti pembelajaran. Sesuai dengan tujuan pembelajaran sains di Sekolah Dasar.
Dari pendapat-pendapat diatas disimpulkan bahwa pendekatan adalah sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran baik aktivitas kajian, interaksi dan relasi dengan individu atau kelompok melalui penggunaan metode-metode tertentu secara efektif.
     
2.      Beberapa Pendekatan yang Digunakan dalam Pembelajaran IPA SD

a)      Pendekatan Keterampilan Proses Dalam IPA SD
Pendekatan keterampilan proses IPA adalah pembelajaran yang dianjurkan didalam mengajar IPA. Keterampilan-keterampilan proses IPA dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip IPA. Keterampilan proses IPA yang dikembangkan pada anak SD merupakan modifikasi dari keterampilan proses IPA yang dimilki para ilmuwan sebab disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan materi yang diajarkan.
Keterampilan proses IPA merupakan pendekatan yang ditempuh para ilmuwan dalam usaha mereka memecahkan misteri-misteri di dalam alam. Aspek-aspek keterampilan dalam proses IPA adalah :
§  Pengamatan
§  Pengklasifikasian
§  Pengukuran
§  Pengidentifikasian dan pengendalian variable
§  Perumusan hipotesa
§  Perancangan eksperimen
§  Penyimpulan hasil eksperimen
§  Pengkomunikasian hasil eksperimen
Apa yang anda berikan dalam pelajaran IPA dan bagaimana anda melaksanakan pembelajarannya sangat tergantung kepada pandangan anda tentang IPA dan pemahaman anda tentang anak-anak. Pendekatan keterampilan-keterampilan proses IPA memberikan kepada murid-murid untuk melakukan dan menemukan sendiri. Jika anda memberitahu tentang fakta-fakta baik melalui ceramah maupun bacaan, maka anda tidak memberi kesempatan kepada murid-murid untuk “merasakan” Ilmu Pengetahuan Alam. Adalah sangat mudah untuk memberitahu murid bahwa titik didih air 100 derajat C atau titik bekunya 0 derajat C, tetapi akan lebih baik hasilnya lagi murid-murid bila anda melatih mereka mengukur suhu air dengan thermometer yang meruakan salah satu keterampilan proses IPA. Mereka menemukansendiri bahwa air membeku pada suhu 0 derajat. Jika murid-murid sudah terampil menggunakan thermometer yang sesuai.dengan kata lain keterampilan yang dilatihkan dapat ditransfer untuk tugas-tugas lain yang ada kaitannya dengan keterampilan tersebut. dan ini merupakan salah satu segi yang penting dalam pembelajaran IPA dengan mempergunakan pendekatan  keterampilan proses IPA. Keterampilan proses tidak merupakan kepingan-kepingan pengetahuan seperti halnya kumpulan fakta-fakta, tetapi merupakan keterampilan yang akan dimilikinya seumur hidup. Contoh lain lagi misalnya memacu grafik adalah salah satu keterampilan. Grafik penyajian data-data berupa gambar yang memungkinkan seseorang untuk menginterprestasikan data-data tersebut dan menarik kesimpulan. Sekali murid-murid meguasai keterampilan membuat grafik, maka ia akan dapat membuat grafik dari berbagai ilmu, baik ilmu pengetahuan alam, pengetahuan social, maupun matematika. Keterampilan ini dapat ditransfer kedalam disiplin ilmu yang lain.
Singkatnya, pengembangan keterampilan proses IPA dalam diri murid-murid adalah yang paling tepat didalam pembelajaran IPA. Keterampilan-keterampilan proses IPA dapat ditransfer kedalam disiplin ilmu yang lain dan keterampilan-keterampilan ini tidak mudah dilupakan. Pendekatan keterampilan proses IPA memungkin kan murid-murid merasakan hakekat IPA serta membuat mereka terampil melakukan kegiatan sains. Dengan demikian mereka mempelajari juga fakta-fakta dan konsep-konsep IPA. Sebagai kesimpulan, dengan mempergunakan pendekatan keterampilan proses IPA murid-murid mempelajari proses IPA.
Catatan yang perlu diperhatikan adalah sebelum Anda mempergunakan pendekatan keterampilan proses IPA dalam pembelajaran IPA, anda sendiri harus benar-benar menguasai keterampilan-keterampilan proses IPA adalah tujuan dari bab ini, sekali anda menguasai keterampilan-keterampilan tersebut, anda dapat melaksanakannya dengan mudah.
·         Pembelajaran Keterampilan Proses IPA di SD
Oleh karena adanya perbedaan-perbedaan perkembangan kognitif pada anak-anak usia Sekolah Dasar maka pembelajaran keterampilan proses IPA di Sekolah Dasar ini akan dibagi atas dua bagian. Bagian pertama adalah pembelajaran keterampilan proses dasar yaitu mengamati, menginferensi, mengukur, mengkomunikasi, mengklasifikasi, dan memprediksi. Bagian ini disusun terutama bagi kelas-kelas awal atau kelas TK sampai dengan kelas 3, sedangkan bagian kedua yang meliputi keterampilan proses IPA terpadu yang dimaksudkan untuk kelas4 sampai kelas6. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah : mengidentifikasi variable-variabel, membuat table dari data, membuatgrafik, menjelaskan hubungan antara variable-variabel, mengumpulkan dan memproses data, menganalisa penyelidikan, merumuskan hipotesis, emmanipulasi variable-variabel, merancang suatu eksperimen serta melaksanakan eksperimen.
·         Pembelajaran Keterampilan Proses IPA di Kelas Rendah
Tidak ada hal baru didalam keterampilan proses IPA untuk kelas rendah. Dasar penyajian materi dalam bagian ini adalah :
1.      Kita sebagai guru IPA mempunyai keinginan dan kemampuan untuk mengajar IPA lebih baik dari sebelumnya, untuk itu kita harus lebih cakap sebelum kita mengambil langkah untuk mengajar anak-anak;
2.      Bahan-bahan yang dipakai dalam keterampilan proses IPA dasar tidak harus terbuat dari bahan-bahan mahal, sebab IPA dapat dipelajari dengan memakai bahan-bahan sederhana, sering terjadi hal-hal biasa yang dijumpai anak-anak dalam kehidupan mereka justru merangsang mereka untuk mengajukan pertanyaan, yang membawa mereka kepada eksperimen yang berhasil;
Akhirnya materi IPA yang baru mengacu kepada perubahan metodologi dan filosofi, hampir semua menekankan pengembangan keterampilan proses IPA sebagai tujuan utama. Hal ini berarti murid-murid harus terlibat didalam pembelajaran IPA secara aktif, dan bukan murid-murid belajar tentang IPA.
Tujuan penyajian materi pada bagian-bagian ini akan menolong anda mengembangkan keterampilan-keterampilan IPA dasar (“Basic Science Skills”) sehingga kemudian anda terampil pula dalam membuat rancangan kegiatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut. Ada enam keterampilan IPA dasar yaitu mengamati atau mengobservasi, mengklasifikasi memprediksi, mengukur, membuat inferensi, mengkomunikasikan hasil observasi atau hasil penyelidikan. Sebagai contoh didalam bagian ini disajikan kegiatan-kegiatan untuk observasi.
Setiap bagian keterampilan mencakup (1) latar belakang, (2) Tujuan khusus, (3) Kegiatan-kegiatan latihan yang dilengkapi dengan evaluasi diri, (4) Tes Penguasaan Materi, (5) Usul-usul praktis yang dapat anda pakai didalam kelas untuk mengembangkan keterampilan tersebut didalam diri murid-murid.
b)     Pendekatan Inkuari
Menurut Webster’s New Collegiate Dictionary kata inkuiri (“inquiry”) berarti pertanyaan atau penyelidikan. Piaget memberikan definisi pendekatan inkuiri sebagai : pendidikan yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari snediri jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan.
Kuslan dan Stone ( dalam Dahar dan Liliasari, 1986 ) mendefinisikan pendekatan inkuiri sebagai : pengajaran dimana guru dan murid mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan. Secara operasional mereka menyatakan bahwa pendekatan inkuari mempunyai karakteristik :
1.      Menggunakan keterampilan-keterampilan proses IPA.
2.      Tidak ada keharusan untuk menyelesaikan unit tertentu dalam waktu tertentu.
3.      Jawaban-jawaban yang dicari tidak diketahui lebih dulu, dan tidak ada dalam buku pelajaran. Buku-buku petunjuk yang dipilih berisi pertanyaan-pertanyaan dan saran-saran untuk menentukan jawaban, bukan memberi jawaban.
4.      Murid-murid bersemangat sekali untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.
5.      Proses pembelajaran berpusat pada pertanyaan-pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana kita mengetahui”, serta “betulkah kesimpulan kita ini”.
6.      Suatu masalah ditemukan lalu dipersempit hingga terlihat kemungkinan masalah itu dapat dipecahkan oleh murid.
7.      Hipotesa dirumuskan oleh murid-murid.
8.      Murid-murid mengusulkan cara-cara pengumpulan data, melakukan eksperimen, pegadaan pengamatan, membaca dan menggunakan sumber-sumber lain.
9.      Semua usul ini dinilai bersama, bila ditentukan pula asumsi-asumsi, keterlibatan-keterlibatan dan kesukaran-kesukaran.
10.  Murid-murid melakukan penelitian, secara individu atau kelompok, untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menguji hipotesa.
11.  Murid-murid mengolah data dan mereka sampai kepada kesimpulan sementara, juga diusahakan untuk memberikan penjelasan-penjelasan secara ilmiah.

c)      Pendekatan STM  ( Sains Teknologi Masyarakat )
Sains Teknologi Masyarakat adalah suatu kecenderungan baru didalam pendidikan IPA (sains) yang mula-mula timbul di Inggris dan Amerika Serikat yang kini meluas ke berbagai Negara. Definisi Sains Teknologi Masyarakat atau “Science – Teknology – Society” menurut National Science Teachers Associations (NSTA) yaitu persatuan guru-guru IPA di Amerika Serikat sebagai berikut : Sains – Teknologi – Masyarakat adalah pembelajaran sains dan teknologi dalam konteks pengalamann manusia. Jadi Sains Teknologi Masyarakat atau STM adalah istilah yang diberikan kepada usaha mutakhir untuk menyajikan konteks dunia nyata dalam pendidikan sains dan pendalaman Sains. Dalam penyajian seperti ini pendidikan sains menjadi lebih daripada sekedar kurikulum mengenai konsep dasar sains (IPA) dan keterampilan proses, sebab STM melibatkan seluruh aspek pendidikan sains (IPA) yaitu tujuan, kurikulum, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan serta kinerja guru.
Dalam pendekatan STM murid-murid harus diikut sertakan dalam penentuan tujuan. Prosedur perencanaan, dan dalam usaha mendapatkan informasi, serta dalam mengevaluasi.
Pendekatan efektif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Berangkat dari masalah-masalah, isu-isu social sebagai focus.
2.      Pelaksanaan mencakup latihan keputusan memakai berbagai strategi.
3.      Relevan dengan kebutuhan masyarakat dan murid.
4.      Merupakan penerapan teknologi dan sains.dalam memecahkan masalah ditekankan pada kerjasama.
5.      Penekanan pada dimensi sains yang beraneka ragam
6.      Evaluasi yang didasarkan kepada kemampuan untuk mendapat dan menggunakan informasi ( Yager, 1990 )
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila sains (IPA) dipadukan dengan mata pelajaran lainnya misalnya : Bahasa, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kesenian dan Matematika, maka konsep-konsep yang diperkenalkan kepada murid-murid aakann dipelajari dengan lebih efektif. ( Gamberg dkk, dalam Carin, 1993 ) pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan dengan STM sudah merupakan paduan dari berbagai bidang studi.
Pembelajaran sains mempergunakan pendekatan STM harus memenuhi kriteria-kriteria dibawah ini :
Tujuan :
1.      Meningkatkan keterampilan inkuari dan pemecahan masalah.
2.      Menekankan cara belajar menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
3.      Menekankan sains (IPA) dalam keterpaduan antar dan inter bidang studi.
Pembelajaran :
1.      Menekankan keberhasilan murid
2.      Mempergunakan berbagai strategi
3.      Menggunakan sumber informasi, kerja lapangan, studi mandiri, serta interaksi antar manusia secara optimal.
Guru :
1.      Mempunyai pandangan yang luas tentang sains.
2.      Mengajar dengan berbagai strategi baru dalam kelas sehingga mengerti mengenai kecakapan, latar belakang dan minat siswa.
3.      Memahami bahwa kadang-kadang guru sendiri tidak selalu berfungsi sebagai sumber informasi.
Evaluasi :
1.      Ada hubungan antara tujuan dengan produk dan proses belajar.
2.      Perbedaan antara kecakapan dan kematangan serta latar belakang murid juga diperhatikan.
3.      Kualitas, efisiensi, dan keefektifan, serta fungsi program juga dievaluasi.
4.      Guru dalam usaha yang terus menerus membantu murid juga termasuk yang dievaluasi.
( Wahyudin, dkk, 1990 ).

d)     Pendekatan konsep
Merupakan pendekatan yang menekankan pengenalan konsep-konsep sains. Pengenalan konsep sains sangat perlu karena dibutuhkan dalam mengkomunikasikan pengetahuan. Tanpa menggunakan pendekatan konsep dalam pembelajaran dapat menyebabkan jalannya pembelajaran menjadi lamban. Apalagi di tingkat sekolah dasar yang kemampuan berpikir siswanya masih relative  rendah dan pengalaman dalam mengeksplorasi alam juga belum begitu banyak. Contoh :
1.      Tiap makhluk hidup memiliki ciri tertentu yang sesuai dengan lingkungan hidupnya.
2.      Jenis makanan hewan berhubungan dengan bentuk gigi yang dimilikinya.
3.      Cara bergerak hewan berhubungan dengan keadaan kakinya.
4.      Tumbuhan darat yang hidup di daerah yang banyak air memilki batang yang berongga.
5.      Tumbuhan yang hidup di daerah yang kering memiliki daun yang berukuran kecil atau tidak ada sama sekali.

e)      Pendekatan Discovery /  Penemuan Terbimbing
Merupakan pendekatan dimana siswa di arahkan untuk mendapatkan suatu kesimpulan dari serangkaian aktivitas yang dilakukan sehingga siswa seolah-olah menemukan sendiri pengetahuan tersebut. dalam Pendekatan penemuan kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep, prinsip, hokum atau pun teori mentalnya sendiri. Artinya siswa tidak diberi konsep, prinsip, hokum maupun teori yang jadi tetapi mereka diarahkan untuk “menemukan” sendiri konsep, prinsip, hokum maupun teori yang dikaji.
f)       Pendekatan History
Merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada sejarah bagaimana ditemukan atau dihasilkannya suatu pengetahuan.
Contoh : siswa mengembangkan pikirannya untuk mengetahui lebih jauh tentang apa yang telah dilakukan ilmuwan terdahulu, dan siswa dapat mengambil teladan tentang keuletan dan ketekunan dari ilmuwan dalam melakukan penelitian dan adanya keinginan untuk maju walaupun banyak rintangan dan hambatan dalam hidupnya.
g)      Pendekatan Lingkungan
Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan daalm suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan lingkungan/sebagai contoh untuk memahami interaksi antar organisme, dengan mengambil contoh kejadian nyata di sekeliling, siswa dapat lebih memahami arti interaksi tersebut.
Dalam proses pembelajarannya tidak selalu siswa diajak ke lingkungan, karena dengan menggunakan pendekatan lingkungan dapat saja guru memberi informasi yang dikaitkan dengan lingkungan, terutama lingkungan sekitar.
Misalnya guru tersebut akan menggunakan metode ceramah, maka ceramahnya mungkin akan dimulai dengan menjelaskan apa-apa yang ada di halaman sekolah. Misalnya, tentang sekolah yang bising, bau yang berasal dari tumpukan sampah, dan air selokan yang berwarna hitam dan berbau.
h)     Pendekatan Faktual
Pendekatan ini menekankan penemuan fakta-fakta dalam IPA, contoh informasi yang didapatkan murid dengan pendekatan ini, misalnya ular termasuk golongan reptile, merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah membaca, mengulang, melatih, dan lain-lain. Pada dasarnya pembelajaran IPA dengan pendekatan ini akan menimbulkan kebosanan pada diri murid-murid dan tidak memberikan gambaran yang benar tentang IPA.
C.    TUJUAN, FUNGSI DAN MANFAAT PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPA SD

1.      Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang maha esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
2.      Mengembangkan rasa ingin tahu.
3.      Sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5.      Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP / MT.
7.      Murid-murid setelah lulus sekolah menjadi warga Negara yang mampu untuk mengambil keputusan-keputusan tentang masalah-masalah didalam masyarakat dan mengambil tindakan  sebagai akibat  menekankan pentingnya sains dan teknologi
8.      Menekankan cara belajar menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

D.    KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPA SD

1.      Kelebihan

·         Strategi ( model atau siasat ) pengajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi yang baik, tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi dengan kadar proses mental yang lebih tinggi atau lebih banyak.
·         Pengajaran berubah dari teacher centered menjadi student centered. Guru tidak lagi mendominasi sepenuhnya kegiatan belajar siswa, tetapi lebih banyak bersifat membimbing dan memberikan kebebasan belajar kepada siswa.
·         Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
·         Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

2.      Kekurangan
·         Memerlukan perubahan kebiasaan cara berpikir siswa yang menerima informasi dari guru secara apa adanya, kalau guru tidak ada tidak belajar, kearah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah kebiasaan bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan.
·         Guru juga dituntut mengubah kebiasaan mengajarnya yang  umumnya sebagai pemberi atau penyaji informasi menjadi sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Inipun merupakan pekerjaan yang tidak gampang karena pada umumnya guru belum mengajar dan belum puas kalau tidak banyak menyajikan informasi (ceramah).
·         Pendekatan-pendekatan diatas banyak memberikan kebebasan kepada siswa dalam belajar, tetapi kebiasaan itu tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan baik dalam arti mengerjakannya dengan tekun, penuh aktivitas dan terarah.

Referensi
Amri, Sofan. 2013. Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.
Haris, Abdul dan Jihad, Asep. 2013. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo.
Iskandar, Srini M. 1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan AlamIndonesia.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Modul 5 Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran IPA

(Sumber: http://irairianti565.blogspot.com/2014/05/modul-5-media-dan-alat-peraga-dalam.html)

1.      Media secara umum adalah saluran komunikasi, yaitu Segala sesuatu yang membawa informasi  dari sumber informasi untuk sampaikan kepada penerima informasi.
2.      Prinsip pemilihan media  yang harus diperhatikan saat guru memilih media untuk pembelajaran yang akan dilaksanakannya:
a.      Efektivitas Media Pembelajaran
Efektivitas media pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran dan efektivitasnya dalam membantu siswa memahami materi pembelajaran yang akan disajikan. Guru harus menimbang-nimbang apakah suatu media pembelajaran yang akan digunakan lebih efektif bila dibandingkan dengan media yang lain. Misalnya, pada pembelajaran IPA di SD tentang terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan, siswa perlu memahami posisi matahari, bumi, dan bulan saat melalukan peredaran. Contoh media dalam pembelajaran pada materi ini yang tersedia di sekolah misalnya media pembelajaran berupa gambar dalam bentuk charta dan alat peraga 3 dimensi berupa model peredaran matahari, bumi dan bulan. Guru dalam hal ini memperhitungkan sejauh dan sedalam apa siswa akan belajar jika menggunakan media pembelajaran berupa gambar, dan sejauh serta sedalam apa siswa akan belajar bila media yang digunakan adalah model peredaran matahari, bumi dan bulan.
Media dalam pembelajaran yang seharusnya dipilih dapat dilihat dari tujuan pembelajaran yang ingin dicapai serta materi pembelajaran yang diajarkan. Bila guru hanya menginginkan siswa mengetahui posisi matahari, bumi, dan bulan yang segaris, maka media pembelajaran berupa gambar mungkin akan lebih mudah dipahami siswa. Tetapi jika guru ingin siswa mengetahui proses terjadinya gerhana, maka model peredaran matahari, bumi dan bulan tentau lebih baik untuk digunakan.
Selain itu makna efektivitas juga berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan saat sebuah media pembelajaran dipilih untuk digunakan. Guru bisa mempertimbangkan, apakah biaya yang digunakan untuk menggunakan media pembelajaran tertentu sebanding dengan hasil pembelajaran yang akan diperoleh siswa.
b.      Taraf Berpikir Siswa
Benda-benda yang bersifat konkret lebih baik digunakan sebagai media pembelajaran bila dibandingkan media yang lebih abstrak. Demikian pula media pembelajaran yang kompleks dari segi struktur atau tampilan akan lebih sulit dipahami dibanding media pembelajaran yang sederhana.
Contoh media pembelajaran di SD untuk struktur organ-organ dalam tubuh manusia haruslah tidak serumit media pembelajaran untuk siswa SMP dan SMA. Media pembelajaran yang sering digunakan untuk materi ini misalnya torso (model 3 dimensi) atau gambar. Walaupun sama-sama menggunakan gambar atau torso, tetapi tingkat kerumitan (kompleksitas) gambar dan torso harus dibedakan. Media pembelajaran di SD tentunya tidak boleh serinci media pembelajaran untuk siswa SMP dan SMA. Jika tingkat kerumitan dan kompleksitas media pembelajaran tidak disesuaikan dengan taraf berpikir siswa maka bisa berakibat siswa bukannya makin mudah memahami, alih-alih semakin bingung dan tidak fokus pada tujuan dan materi pembelajaran hingga tidak dapat memperoleh hasil pembelajaran yang diharapkan.
c.       Interaktivitas Media Pembelajaran
Seberapa besar kemungkinan siswa dapat berinteraksi dengan media pembelajaran? Makin interaktif media, makin bagus media pembelajaran itu karena lebih mendorong siswa untukterlibat aktif dalam belajar.
Misalnya, saat mengajar materi tentang operasi hitung bilangan bulat, contoh media dalam pembelajaran di SD yang dapat digunakan adalah videotentang bagaimana cara melakukan operasi hitung bilangan bulat atau guru dapat juga menggunakan media pembelajaran multimedia interaktif pembelajaran mandiri tentang operasi hitung bilangan bulat. Bila siswa diberikan tontonan video, tentunya interaksi yang terjadi antara siswa dengan media pembelajaran hanya satu arah saja: dari media ke siswa. Sedangkan bila menggunakan media pembelajaran berbentuk multimedia interaktif yang dioperasikan pada sebuah komputer, maka interaksi siswa dengan media tentu lebih tinggi. Dalam hal ini, maka media yang paling cocok untuk dipilih adalah media pembelajaran dalam bentuk multimedia interaktif.
d.      Ketersediaan Media Pembelajaran
Media yang dipilih saat merancang pembelajaran secara logis sudah tersedia di sekolah, atau paling tidak bila tidak dimiliki masih dapat diperoleh dengan mudah, misalnya dengan meminjam atau membuat sendiri. Jumlah media yang akan digunakan juga harus diperhitungkan dengan jumlah siswa di kelas. Bila media pembelajaran digunakan bukan secara klasikal, tetapi secara berkelompok atau individual, maka jumlah media pembelajaran yang tersedia harus mencukupi.
e.       Minat Siswa Terhadap Media Pembelajaran
Sebuah media pembelajaran sangat berpengaruh pada minat siswa. Ada media-media pembelajaran yang dapat membangkitkan minat siswa jauh lebih baik bila dibanding menggunakan media pembelajaran lain.
media pembelajaran kartuMisalnya, pada pembelajaran Bahasa Indonesia contoh media pembelajaran di SD yang digunakan untuk mengajarkan jenis-jenis kata (kata sifat, kata benda dan kata kerja) guru dapat menggunakan kartu-kartu berukuran 10 x 8 cm. Kartu-kartu yang hanya memuat contoh kata yang harus diidentifikasi siswa apakah merupakan kata kerja, kata benda, atau kata sifat tentu kurang menarik bila dibandingkan dengan kartu-kartu serupa tetapi memiliki variasi berupa ditambahkannya gambar-gambar kartun yang familiar dengan siswa terkait kata yang ditulis pada kartu tersebut dengan warna-warna yang semarak.








f.        Kemampuan Guru Menggunakan Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang dipilih harus dapat digunakan oleh guru dengan baik. Sebenarnya kendala kemampuan guru dalam mengoperasikan suatu media pembelajaran dapat saja diatasi apabila guru yang bersangkutan memiliki kemauan untuk belajar menggunakan media pembelajaran tersebut.
g.      Alokasi Waktu
Penggunaan media pembelajaran yang notabene efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, mempunyai relevansi yang baik dengan materi pelajaran, dan berbagai kelebihan lainpun kadang-kadang terpaksa harus dikesampingkan bilamana alokasi waktu menjadi pertimbangan yang penting. Akan tetapi ketersediaan waktu seringkali bisa disiasati dengan berbagai cara berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki oleh guru.
h.      Fleksibelitas (kelenturan) Media Pembelajaran
Media pembelajaran itu dikatakan mempunyai fleksibelitas yang baik apabila dapat digunakan dalam berbagai situasi. Kadangkala, saat proses pembelajaran berlangsung terjadi perubahan situasi yang berakibat tidak dapat digunakannya suatu media pembelajaran. Contoh media pembelajaran yang menggunakan sumber energi untuk pengoperasiannya kadangkala justru dapat menghambat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung bila aliran listrik mati.
i.        Keamanan Penggunaan Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang dipilih haruslah media pembelajaran yang aman bagi mereka sehingga hal-hal yang tidak diinginkan saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung tidak terjadi.Contoh media pembelajaran di SD yang kurang aman misalnya penggunaan alat-alat yang mudah terbakar, tajam (mudah melukai) atau panas, atau bahan-bahan kimia bersifat korosif.
j.        Kualitas Teknis Media Pembelajaran
Perawatan media pembelajaran dapat mempengaruhi kualitas teknis media. Kualitas teknis media pembelajaran juga dapat ditentukan oleh kualitas produksi media oleh suatu produsen. Jika di sekolah tersedia media pembelajaran yang sejenis tetapi diproduksi oleh beberapa produsen, maka sebaiknya guru memilih yang sekiranya memiliki kualitas teknis terbaik, misal dari segi keterbacaan tulisan atau gambar, komposisi warna, ketelitian alat, dan sebagainya.

3.      Media untuk pembelajaran IPA disekolah dasar
Media Pembelajaran merupakan penataan informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi belajar. Lingkungan adalah tempat terjadinya pembelajaran sekaligus tempat dimana metode, media, dan peralatan yang diperlukan menyampaikan informasi dan membimbing siswa dalam belajar.
Media pembelajaran (Heinich dkk 1996) antara lain :
a.       Media tidak diproyeksikan
1)      Objek nyata adalah benda yang digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran.
2)      Model representasi benda asli dalam bentuk tiga dimensi
3)      Bahan tercetak adalah majalah, atau bahan bacaan lain yang berisi penjelasan dan ilustrasi tentang topik-topik dalam pembelajaran IPA
4)      Bahan ilustrasi dapat berupa fotografik dan yang bersifat nonfotografik
b.      Media diproyeksikan
1)      Transparansi untuk memakai alat overhead projector
2)      Slide adalah suatu format kecil transparansi fotografi yang secara individual dipasangkan pada alat proyeksi.
c.       Audio
Rekaman dan transmisi suara manusia atau suara lainnya berisi informasi atau penjelasan tentang tofik pembelajaran, untuk diperdengarkan oleh siswa. media audio bisa berbentuk kaset, rekaman fonograf, compact disk, audio cards.
d.      Media gerak
Media gerak adalah bentuk media yang menyajikan topik pembelajaran dalam bentuk narasi dan gambar yang bergerak. Bentuk media gerak ini bisa berupa film atau video.
e.       Komputer
Yaitu untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Contoh program praktikum IPA, pembelahan sel, petunjuk keselamatan di laboratorium, dan sebagainya.
f.       Media radio dan televisi.
Media radio adalah sajian suara mnusia atau suara lainnya berisi informasi atau penjelasan tentang topik pembelajaran yang disampaikan secara langsung atau melalui proses perekaman, disiarkan melalui radio untuk diperdengarkan oleh siswa.
Televisi adalah seri gambar yang bergerak yang disertai dengan suara manusia atau suara lainnya yang relevan dengan gambar yang disajikan terkait dengan topik oembelajaran yang disampaikan secara langsung atau melalui proses perekaman.

4.      Merancang alat peraga pembelajaran disekolah dasar
Mendesain alat peraga  IPA di SD meliputi merancang, memilih dan membuat alat peraga IPA yang sesuai untuk mengajarkan suatu konsep, prinsip dan teori-teori IPA di SD. Mendesain alat peraga dapat pula berarti menampilkan bentuk asli atau memodifikasi benda asli menjadi sebuah model tertentu.
Sebelum kita membuat alat peraga sederhana terlebih dahulu kita harus menganalisis materi IPA. Sarana utama dari menganalisis materi IPA adalah :
a.       Terjabarnya tema/materi pokok/pokok bahasan
b.      Terpilihnya pendekatan dan metode yang efektif dan efisien
c.       Terpilihnya alat peraga atau sarana pembelajaran yang tepat atau cocok
d.      Terjadinya alokasi yang sesuai.
Dalam menganalisis tersebut perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut
a.       Metode dan pendekatan seperti apa yang sesuai ?
b.      Apakah diperlukan alat peraga ?
c.       Bagaimana pengelolaan kelas bila mengerjakan metode percobaan ?
d.      Bagaimana cara mendesain alat peraga ?
            Dalam mendesain alat peraga perlu memperhatikan konsep yang mendasari kegunaan alat atau prinsip kerja alat tersebut.
            Ada tiga kelayakan untuk memilih alat peraga yang baik :
a.       kelayakan praktis, yaitu atas dasar praktis yakni :
1)      Pengenalan dan pemahaman guru dengan jenis alat peraga
2)       Ketersediaan alat peraga dilingkungan belajar setempat
3)      Ketersediaan waktu untuk mempersiapkannya
4)      Ketersedian sarana dan fasilitas pendukungnya
5)      Keluwesan, yaitu: mudah dibawa serta mudah dipergunakan pada waktu kapan dan digunakan oleh siapa saja.
b.      kelayakan teknis / pedagogis, yaitu alat peraga yang dipilih harus memenuhi ketentuan kualitas yaitu:
1)      Relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2)      Merangsang motivasi terjadinya proses belajar yang optimal
c.       kelayakan biaya.
Disamping itu alat peraga IPA sederhana yang kita buat harus memiliki nilai bantu terhadap pelajaran IPA yang dapat kita nyatakan dengan output pedagogis, yaitu hasil interaksi dari kegunaan alat peraga dengan  yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.
Adapun alat dan bahan yang kita butuhkan untuk membuat alat peraga IPA yang sederhana hendaknya bisa diperoleh dari lingkungan sekitar rumah dan sekolah.

5.      Memanfaatkan alat peraga untuk pembelajaran IPA
a.       Alat digunakan untuk membuktikan udara ada di mana-mana.





b.      Alat percobaan pembiasan cahaya



c.       Alat percobaan perpindahan panas secara konduksi



d.      Alat percobaan cahaya menembus benda bening

 
Blogger Templates