1.1 Pengertian Strategi Pembelajaran
Pada mulanya istilah strategi digunakan dalam dunia militer dan diartikan
sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu
peperangan. Seorang yang berperang dalam mengatur strategi, untuk memenangkan
peperangan sebelum melakukan suatu tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan
pasukan yang dimilikinya baik dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya.
Setelah semuanya diketahui, baru kemudian ia akan menyusun tindakan yang harus
dilakukan, baik tentang siasat peperangan yang harus dilakukan, taktik dan
teknik peperangan, maupun waktu yang tepat untuk melakukan suatu serangan.
Dengan demikian dalam menyusun strategi perlu memperhitungkan berbagai faktor,
baik dari dalam maupun dari luar.
Dari ilustrasi tersebut dapat disimpulkan, bahwa strategi digunakan untuk
memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia
pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of
activities designed to achieves a particular education goal. Jadi, strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian
kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Menurut Sanjaya Wina (2007) istilah strategi, sebagaimana banyak istilah
lainnya, dipakai dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Di
dalam konteks belajar-mengajar, strategi berarti pola umum perbuatan
guru-peserta didik di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Sifat umum
pola tersebut berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak
dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam bermacam-macam
peristiwa belajar. Dengan demikian maka konsep strategi dalam hal ini menunjuk
pada karakteristik abstrak rentetan perbuatan guru-peserta didik di dalam
peristiwa belajar-mengajar. Implisit di balik karakteristik abstrak itu adalah
rasional yang membedakan strategi yang satu dari strategi yang lain secara
fundamental. istilah lain yang juga dipergunakan untuk maksud ini adalah
model-model mengajar. Sedangkan rentetan perbuatan guru-peserta didik dalam
suatu peristiwa belajar-mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur
instruksional.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi
pembelajaran.
- Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta
didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
- Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa
strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang
dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta
didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
- Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa
strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan
materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya
dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi;
sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan
pengalaman belajar kepada peserta didik.
- Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya,
2007) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh
komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar
yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai
tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan
hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan
termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan
disampaikan kepada peserta didik.
- Cropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998)
mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai
jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai. la menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat
dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan.
Ada dua hal yang patut dicermati dari pengertian-pengertian di atas. Pertama, strategi
pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam
pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses
penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua,
strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua
keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian,
penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan
sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab
itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat
diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu
strategi.
Strategi pembelajaran berbeda dengan desain instruksional karena strategi
pembelajaran berkenaan dengan kemungkinan variasi pola dalam arti macam dan
urutan umum perbuatan belajar-mengajar yang secara prinsip berbeda antara yang
satu dengan yang lain, sedangkan desain instruksional menunjuk kepada cara-cara
merencanakan sesuatu sistem lingkungan belajar tertentu, setelah ditetapkan
untuk menggunakan satu atau lebih strategi pembelajaran tertentu. Kalau
disejajarkan dengan pembuatan rumah, pembicaraan tentang (bermacam-macam)
strategi pembelajaran adalah ibarat melacak pelbagai kemungkinan macam rumah
yang akan dibangun (joglo, rumah gadang, villa, bale gede, rumah gedung modern,
dan sebagainya yang masing-masing menampilkan kesan dan pesan unik), sedangkan
desain instruksional adalah penetapan cetak biru rumah yang akan dibangun itu
serta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan langkah-langkah konstruksinya
maupun kriteria penyelesaian dari tahap ke tahap sampai dengan penyelesaian
akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibuat.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa untuk dapat melaksanakan tugas secara
profesional, seorang guru memerlukan wawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkinan
strategi pembelajaran sesuai dengan tujuan-tujuan belajar, baik dalam arti efek
instruksional maupun efek pengiring, yang ingin dicapai berdasarkan rumusan
tujuan pendidikan yang utuh, di samping penguasaan teknis di dalam mendesain
sistem lingkungan belajar-mengajar dan mengimplementasikan secara efektif apa
yang telah direncanakan di dalam desain instruksional.
Ceramah, diskusi, bermain peran, LCD, video-tape, karya wisata, penggunaan
nara sumber, dan lain-lainnya merupakan metode, teknik dan alat yang menjadi
bagian dari perangkat alat dan cara di dalam pelaksanaan sesuatu strategi
pembelajaran. Juga harus dicatat bahwa dalam peristiwa pembelajaran, seringkali
harus dipergunakan lebih dari satu strategi, karena tujuan-tujuan yang akan
dicapai juga biasanya kait-mengait satu dengan yang lain dalam rangka usaha
pencapaian tujuan yang lebih umum.
Agar tidak bias dalam mendefinisikan strategi pembelajaran, dibutuhkan
pemahaman terhadap pengertian-pengertian lain yang mirip dengan strategi
pembelajaran yang selalu digunakan seperti model, pendekatan, strategi, metode
dan teknik. Dalam referensi kependidikan sering disandingkan antara
pengertian-pengertian tersebut dengan maksud yang serupa, namun dalam bahan
perkuliahan ini akan diuraikan perbedaan antara model, pendekatan, strategi,
metode dan teknik pembelajaran,
1.2 Model,Pendekatan, Strategi,metode
dan teknik pembelajaran
Arends (1997) menyatakan “The term teaching model refers to a particular
approach to instruction that includes its goals, syntax, environment, and
management ystem.” Istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan
pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungan, dan sistem
pengelolaannya, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas
daripada pendekatan, strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk
menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku,
film, komputer, kurikulum, dan lain-lain (Joyce, 1992 ). Selanjutnya Joyce
menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarah kepada desain pembelajaran
untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran
tercapai.
Soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000) mengemukakan maksud dari model
pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.” Hal ini
sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model
pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
Model pembelajaran mempunvai empat ciri khusus yang membedakan dengan
strategi, metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ialah:
1.
rasional teoritik logis
yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
2.
landasan pemikiran
tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan
dicapai);
3.
tingkah laku pembelajaran
yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan
lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
(Kardi dan Nur, 2000 ).
Adapun istilah pendekatan (approach) dalam
pembelajaran menurut Sanjaya (2007) memiliki kemiripan dengan strategi. Sebenarnya
pendekatan berbeda baik dengan strategi dan metode. Pendekatan dapat diartikan
sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang
sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya, strategi dan metode pembelajaran
yang digunakan dapat bersumber dari pendekatan tertentu. Roy Killen (1998)
misalnya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang
berpusat pada guru (teacher-centred approaches) dan pendekatan
yang berpusat pada siswa (student-centred approaches). Pendekatan
yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct
instruction),pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori.
Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi
pembelajaran discoverydan inkuiri serta strategi pembelajaran
induktif.
Menurut Fathurrahman Pupuh (2007) metode secara harfiah berarti cara. Dalam
pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang
dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran,
metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan bahan pelajara pada peserta
didik untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, salah
satu keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran
adalah keterampilan memilih motode. Pemilihan metode terkait langsung dengan
usaha-usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan
kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Oleh
karena itu, salah satu hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah
bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi
keberhasilan kegiatan belajar-mengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen
lain dalam keseluruhan komponen pendidikan.
Makin tepat metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin
efektif kegiatan pembelajaran. Tentunya ada juga faktor-faktor lain yang harus
diperhatikan, seperti: faktor guru, anak, situasi (lingkungan belajar), media,
dan lain-lain.
Selain strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran, terdapat istilah lain
yang kadang-kadang sulit dibedakan, yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik
dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik
adalah cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu
metode, yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan
efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses
ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi. Misalnya, berceramah pada
siang hari dengan jumlah peserta didik yang banyak tentu saja akan berbeda jika
dilakukan pada pagi hari dengan jumlah peserta didik yang sedikit.
Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode
tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih individual. Misalnya ada dua
orang yang sama-sama menggunkan metode ceramah dalam situasi yang sama maka
bisa dipastian mereka akan melakukannya secara berbeda .
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran yang
diterapkan oleh guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan; sedangkan
bagaimana menjalankan strategi itu dapat diterapkan berbagai metode
pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran, guru dapat
menentukan teknik yang dianggap relevan dengan metode, dan penggunaan teknik
itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara guru yang satu
dengan yang lain.
1.3 Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Strategi dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: strategi pembelajaran
langsung (direct instruction), tak langsung (indirect instruction),
interaktif, mandiri, melalui pengalaman (experimental).
Strategi pembelajaran langsung
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan
oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun
keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat
deduktif.
Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan,
sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan,
proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan
interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan
sikap dan pemikiran kritis, strategi pembelajaran langsung perlu dikombinasikan
dengan strategi pembelajaran yang lain.
Strategi pembelajaran tak langsung
Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut inkuiri, induktif,
pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Berlawanan dengan
strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada
peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan
guru bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola
lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta didik untuk
terlibat.
Kelebihan dari strategi ini antara lain: (1) mendorong ketertarikan dan
keingintahuan peserta didik, (2) menciptakan alternatif dan menyelesaikan
masalah, (3) mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal
dan kemampuan yang
lain, (4) pemahaman yang lebih baik, (5) mengekspresikan pemahaman. Sedangkan
kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang, outcome sulit
diprediksi. Strategi pembelajaran ini juga tidak cocok apabila peserta
didik perlu mengingat materi dengan cepat.
Strategi pembelajaran interaktif
Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di
antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan
peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan
pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk
berfikir dan merasakan.
Kelebihan strategi ini antara lain: (1) peserta didik dapat belajar dari
temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan,
(2) mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang rasional. Strategi
pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompokkelompok
dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat
bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika
kelompok.
Strategi pembelajaran empirik (experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada
peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan
formulasi
perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis
dalam pembelajaran empirik yang efektif.
Kelebihan dari startegi ini antara lain: (1) meningkatkan partisipasi
peserta didik, (2) meningkatkan sifat kritis peserta didik, (3) meningkatkan
analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain.
Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan
pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang
panjang.
Strategi pembelajaran mandiri
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk
membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Fokusnya
adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan
guru. Belajar
mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok
kecil.
Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri
dan bertanggunggjawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta MI belum dewasa,
sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.
Karakteristik dan cara penggunaan macam-macam strategi di atas, akan dibahas
tuntas pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Strategi yang akan dibahas telah
dimodivikasi sesuai yang banyak diperlukan dalam pembelajaran di Mi, yaitu:
pada paket 5, dibahas tentang strategi pembelajaran langsung (direct
instruction), paket 6, strategi pembelajaran tak langsung (indirect
instruction) yang diberi judul dengan startegi pembelajaran inkuiri ,
paket 7, strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM), paket 8, strategi
pembelajaran kooperatf (Cooperative Learning), paket 8, strategi pembelajaran
aktif, dan paket 9, strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berfikir
1.4 Komponen Strategi Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada
seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai
tujuan. Selaku suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain
tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan
itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga
antarsesama komponen terjadi kerja sama. Oleh karena itu, guru tidak boleh
hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan, dan
evaluasi saja, tetapi ia harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.
Guru
Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan
faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan
pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh
komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa
komponen lain menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah
guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah
membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang
diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik
memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam
merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
Peserta didik
Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk
mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar.
Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.
Tujuan
Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan
strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam strategi
pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus
dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajran merupakan target yang
ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran
Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah
tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat.
Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam
kegiatan pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran
Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam
menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan
pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.
Metode
Metode adalah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Penentuan metode yang akan digunakan oleh
guru dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya
pembelajaran yang berlangsung.
Alat
Alat yang dipergunakan dalam pembelajran merupakan segala sesuatu yang
dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Alat
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat verbal dan alat bantu nonverbal. Alat
verbal dapat berupa suruhan, perintah, larangan dan lain-lain, sedangkan yang
nonverbal dapat berupa globe, peta, papan tulis slide dan
lain-lain.
Sumber Pembelajaran
Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai
tempat atau rujukan di mana bahan pembelajaran bisa diperoleh. Sehingga sumber
belajar dapat berasal dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaannya, misalnya,
manusia, buku, media masa, lingkungan, museum, dan lain-lain.
Evaluasi
Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah
tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi
sebagai sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah ditetapkan. Kedua
fungsi evaluasi tersebut merupakan evaluasi sebagai fungsi sumatif dan
formatif.
Situasi atau Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi guru dalam menentukan strategi pembelajaran.
Lingkungan yang dimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya iklim,
madrasah, letak madrasah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani,
misalnya dengan teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini
misalnya menurut isi materinya seharusnya pembelajaran menggunakan media
masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka
diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.
Komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya
pembelajaran, untuk itu semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor
yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran. Untuk lebih mempermudah
menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran, komponen
strategi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: peserta didik
sebagairaw input, entering behavior peserta didik,
dan instrumental input atau sasaran.
Peserta didik sebagai raw input.
Strategi pembelajaran digunakan dalam rangka membelajarkan peserta didik.
Untuk itu dalam pembelajaran seorang guru harus memperhatikan siapa yang dihadapi.
Peserta didik pada tingkat sekolah yang sama cenderung memiliki umur yang sama,
sehingga perkembangan intelektual pada umumnya adalah sama. Dipandang dari
kesamaan ini, maka seorang guru dapat menggunakan metode atau teknik yang sama
dalam membelajarkan peserta didik. Namun demikian di samping persamaan
tersebut, peserta masih mempunyai perbedaan-perbedaan walaupun pada umur yang
relatif sama.
Perbedaan peserta didik tersebut dari segi fisiologisnya adalah
pendengaran, penglihatan, kondisi fisik, juga perbedaan dari segi
psikologisnya. Perbedaan segi psikologis tersebut antara lain adalah IQ, bakat,
motivasi, minat/perhatian, kematangan, kesiapan, dan masih banyak lagi.
Kondisi-kondisi tersebut sangat mempengaruhi peserta didik dalam belajar. Untuk
itu, dalam menentukan strategi pembelajaran harus diperhatikan hal-hal di atas.
Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menghadapi heterogenitas peserta
dalam kelas yang sama adalah seorang guru disarankan untuk menggunakan
multimetode dan multimedia. Hal ini disebabkan masing-masing metode dan media
mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan dimungkinkan masing-masing peserta
didik akan mempunyai kecenderungan tertarik pada metode dan media tertentu.
Entering Behavior Peserta Didik
Seorang pendidik untuk dapat menentukan strategi pembelajaran yang
sesuai terlebih dahulu harus mengetahui perubahan perilaku, baik
secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara behavior peserta
didik. Misalnya, apakah tingkat prestasi yang dicapai peserta didik itu
merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan?. Untuk
kepastiannya seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku peserta
didik saat mereka mau masuk sekolah dan saat kegiatan belajar mengajar
dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku peserta didik yang
dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang
dimaksudkan dengan entering behavior peserta didik.
Entering bahavior akan dapat diidentifikasi
dengan cara sebagai berikut:
- Secara tradisional, telah lazim para guru mulai dengan pertanyaan
mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
- Secara
inovatif, guru
tertentu di berbagai lembaga pendidikan yang memiliki atau mampu
mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi
syarat, mengadakan pretes sebelum mereka mulai mengikuti
program belajar mengajar.
Pola-pola Belajar Peserta Didik
Mengetahui pola belajar peserta didik adalah modal bagai seorang guru untuk
menentukan strategi pembelajaran. Robert M. Gagne (1979) membedakan pola-pola
belajar peserta didik ke dalam delapan tipe, yang tiap tipe merupakan prasyarat
bagi lainnya yang lebih tinggi hierarkinya. Delapan tipe belajar dimaksud
adalah: 1) signal , (belajar isyarat), 2) stimulus-response learning (belajar
stimupons), 3) chaining (rantai atau rangkaian), 4) verbal
association,(asosiasi verbal), 5) discrimination learning(belajar
diskriminasi), 6) concept learning (belajar konsep), 7) rule
learning (belajar aturan), problem solving (memecahkan
masalah).
Kedelapan tipe belajar sebagaimana disebutkan di atas akan dijelaskan satu
per satu secara singkat dan jelas sebagai berikut.
Belajar Tipe 1: Signal Learning (Belajar Isyarat)
Belajar tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Jadi, tidak ada persyaratan,
namun merupakan hierarki yang harus dilalui untuk menuju jenjang belajar yang
paling tinggi.Signal learning dapat diartikan sebagai penguasaan
pola-pola dasar perilaku bersifatinvoluntary ( tidak sengaja dan
tidak disadari tujuannya). Dalam tipe ini terlibat aspek reaksi emosional di
dalamnya. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah
diberikannya stimulus (signal) secara serempak dan
perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali. Signal
learning. Ini mirip dengan conditioningmenurut Pavlov yang
timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat umum
dan emosional selain timbulnya dengan tidak sengaja dan tidak dapat
dikuasai. Contoh: Aba-aba “Siap!” merupakan suatu signal atau
isyarat mengambil sikap tertentu. Melihat wajah ibu menimbulkan rasa
senang. Wajah ibu di sini merupakan isyarat yang menimbulkan
perasaan senang itu. Melihat ular yang besar menimbulkan rasa takut. Melihat
ular merupakan isyarat yang menimbulkan perasaan tertentu.
Belajar Tipe 2: Stimulus-Respons Learning (Belajar Stimulus-respon)
Bila tipe di atas digolongkan dalam jenis classical condition, maka belajar
2 ini termasuk ke dalam instrumental conditioning atau belajar
dengan trial and error (mencoba-coba). Proses belajar bahasa
pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan
untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah faktorinforcement. Waktu
antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. Makin singkat jarak S-R
dengan S-R berikutnya, semakin kuat reinforcement.
Contoh: Anjing dapat diajar
“memberi’ salam”.dengan mengangkat kaki depannya bila kita katakan “Kasih
tangan! ” atau “Salam “. Ucapan `kasih tangan’ merupakan stimulus yang
menimbulkan respons `memberi’ salam’ oleh anjing itu.
Belajar Tipe 3: Chaining (Rantai atau Rangkaian)
Chaining adalah belajar
menghubungkan satuan ikatan S-R (Stimulus-Respons) yang satu
dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe belajar ini
antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan
pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan,
pengulangan, danreinforcement tetap penting bagi berlangsungnya
proses chaining.
Contoh: Dalam bahasa kita banyak
contoh chaining seperti ibu-bapak, kampung-halaman,
selamat tinggal, dan sebagainya. Juga dalam perbuatan kita banyak
terdapatchaining ini, misalnya pulang kantor, ganti baju,
makan malam, dan sebagainya. Chaining terjadi bila
terbentuk hubungan antara beberapa S-R, sebab yang terjadi segera setelah yang
satu lagi. Jadi berdasarkan hubungan conntiguity).
Belajar Tipe 4. Verbal Association (Asosiasi Verbal)
Baik chaining maupun verbal association, yang kedua
tipe belajar ini, menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan lain.
Bentuk verbal association yang paling sederhana adalah bila
diperlihatkan suatu bentuk geometris, dan si anak dapat mengatakan “bujur
sangkar”, atau mengatakan “itu bola saya”, bila melihat bolanya. Sebelumnya, ia
harus dapat membedakan bentuk geometris agar dapat mengenal `bujur sangkar’
sebagai salah satu bentuk geometris, atau mengenal ‘bola’, `saya’, dan ‘itu’.
Hubungan itu terbentuk, bila unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang
satu segera mengikuti satu lagi (conntiguity).
Belajar Tipe 5: Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)
Discrimination learning atau belajar membedakan. Tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan
pengujian di antara perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya,
kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai. Kondisi utama
berlangsung proses belajar ini adalah anak didik sudah mempunyai pola aturan
melakukan chaining dan association serta
pengalaman (pola S-R)
Contoh:. Guru mengenal peserta
didik serta nama masing-masing karena mampu mengadakan diskriminasi di antara
anak itu. Diskriminasi didasarkan atas chain. Anak misalnya
harus mengenal mobil tertentu berserta namanya. Untuk mengenal model lain
diadakannya chain baru dengan kemungkinan yang satu akan
mengganggu yang satunya lagi. Makin banyak yang dirangkaikan, makin besar
kesulitan yang dihadapi, karena kemungkinan gangguan atau interference itu,
dan kemungkinan suatu chaindilupakan.
Belajar Tipe 6: Concept Learning (Belajar Konsep)
Concept learning adalah belajar
pengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan
objek-objeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep. Kondisi utama yang
diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental
sebelumnya.
Belajar konsep dapat dilakukan karena kesanggupan manusia untuk mengadakan
representasi internal tentang dunia sekitarnya dengan menggunakan bahasa.
Manusia dapat melakukannya tanpa batas berkat bahasa dan kemampuannya
mengabstraksi. Dengan menguasai konsep, ia dapat menggolongkan dunia sekitarnya
menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar, jumlah, dan
sebagainya. la dapat menggolongkan manusia menurut hubungan keluarga, seperti
bapak, ibu, paman, saudara, dan sebagainya; menurut bangsa, pekerjaan, dan
sebagainya. Dalam hal ini, kelakuan manusia tidak dikuasai oleh stimulus dalam
bentuk fisik, melainkan dalam bentuk yang abstrak. Misalnya kita dapat menyuruh
peserta didik dengan perintah:“Ambilkan botol yang di tengah! ” Untuk
mempelajari suatu konsep, peserta didik harus mengalami berbagai situasi dengan
stimulus tertentu. Untuk itu, ia harus dapat mengadakan diskriminasi untuk
membedakan apa yang termasuk dan tidak termasuk konsep itu. Proses belajar
konsep memakan waktu dan berlangsung secara berangsur-angsur.
Belajar Tipe 7: Rule Learning (Belajar Aturan)
Rule learning belajar membuat
generalisasi, hukum, dan kaidah. Pada tingkat ini peserta didik belajar
mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika
formal (induktif, dedukatif, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan
kausalitas) sehingga peserta didik dapat menemukan konklusi tertentu yang
mungkin selanjutnya dipandang sebagai “rule “: prinsip, daliI,
aturan, hukum, kaidah, dan sebagainya.
Belajar Tipe 8: Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Problem solving adalah belajar memecahkan
masalah. Pada tingkat ini para peserta didik belajar merumuskan memecahkan
masalah, memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau
membangkitkan situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang
telah dikuasainya. Belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagai
berikut: Individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi
keraguan dan kekaburan sehingga merasakan adanya semacam kesulitan.Langkah-langkah
yang memecahkan masalah, adalah sebagai berikut:
Merumuskan dan Menegaskan Masalah
Individu melokalisasi letak sumber kesulitan, untuk memungkinkan mencari
jalan pemecahannya. la menandai aspek mana yang mungkin dipecahkan dengan
menggunakan prinsip atau dalil serta kaidah yang diketahuinya sebagai pegangan.
Mencari Fakta Pendukung dan Merumuskan Hipotesis
Individu menghimpun berbagai informasi yang relevan termasuk pengalaman
orang lain dalam menghadapi pemecahan masalah yang serupa. Kemudian
mengidentifikasi berbagai alternatif kemungkinan pemecahannya yang dapat
dirumuskan sebagai pertanyaan dan jawaban sementara yang memerlukan
pembuktian (hipotesis).
Mengevaluasi Alternatif Pemecahan yang Dikembangkan
Setiap alternatif pemecahan ditimbang dari segi untung ruginya. Selanjutnya
dilakukan pengambilan keputusan memilih alternatif yang dipandang paling
mungkin (feasible)dan menguntungkan.
Mengadakan Pengujian atau Verifikasi
Mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental alternatif
pemecahan yang dipilih, dipraktikkan, atau dilaksanakan. Dari hasil pelaksanaan
itu diperoleh informasi untuk membuktikan benar atau tidaknya yang telah
dirumuskan.
Instrumental Input atau Sasaran
Instrumental input menunjukkan kualifikasi serta kelengkapan sarana dan
prasarana yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pembelajaran. Yang
termasuk dalam instrumental input antara lain guru, kurikulum, bahan/sumber,
metode, dan media.
Keberadaan instrumental input ini sangat mempengaruhi dalam menentukan
strategi pembelajaran. Misalnya secara teoritis, dipandang dari tujuannya maka
suatu materi harus disajikan dengan menggunakan metode laboratorium, namun
karena tidak adanya media di sekolah tersebut, maka diganti dengan metode
demonstrasi atau yang lainnya.
Strategi pembelajaran yang dterapkan oleh guru akan selalu bergantung
pada sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari
yang sangat operasional dan konkrit, yakni Tujuan Instruksional
Khusus dan Tujuan Instruksional Umum, tujuan
kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal.
Persepsi guru atau persepsi anak didik mengenai sasaran akhir kegiatan
pelajaran akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap sasaran-antara serta sasaran-kegiatan.Sasaran
itu harus diterjemahkan ke dalam ciri-ciri perilaku kepribadian yang didambakan
tersebut harus memiliki kualifikasi: a) pengembangan bakat secara, optimal, b)
hubungan antarmanusia, c) efisiensi ekonomi, dan d) tanggung jawab warga selaku
warga negara.
Pandangan hidup para guru maupun peserta didik akan turut mewarnai
berkenaan dengan gambaran karakteristik sasaran manusia idaman. Konsekuensinya
akan mempengaruhi juga kebijakan tentang perencanaan, pengorganisasian,
serta penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar.
Enviromental Input ( Lingkungan).
Lingkungan sangat mempengaruhi guru di dalam menentukan strategi belajar-
mengajar. Lingkungan yang dimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya
iklim, sekolah, letak sekolah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani,
misalnya dengan teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini
misalnya seharusnya menurut isi materinya seharusnya menggunakan media
masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka
diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.
Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang
diiorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar
terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengawasan itu turut menentukan
lingkungan dalam membantu kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang baik adalah
lingkungan yang menantang dan merangsang para peserta didik belajar, memberikan
rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujua yang diharapkan. Salah satu faktor
yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah job description proses
belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok peserta didik. Sehubungan dengan hal ini,
job description guru dalam implementasi proses belajar- mengajar
sebagai berikut.
- · Perencanaan
instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan
organisasi belajar.
- Organisasi belajar
yang merupakan usaha menciptakan wadah dan fasilitas-fasilitas atau
lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang mengandung kemungkinan
terciptanya proses belajar mengajar. Menggerakkan anak didik yang
merupakan usaha memancing, membangkitkan, dan mengarahkan motivasi belajar
peserta didik.
- Supervisi dan
pengawasan, yakni usaha mengawasi, menunjang, manbantu, mengaskan, dan
mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan
instruksional yang telah didesain sebelumnya.
- Penelitian yang
lebih bersifat penafsiran penilaian yang mendukung
pengertian lebih luas dibanding dengan pengukuran atau evaluasi
pendidikan.
1.5 Strategi Pembelajaran efektif
Pengertian strategi pembelajaran efektif adalah prinsip memilih hal-hal
yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum
penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran
cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi
memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Killen
(1998): No teaching strategy is better than others in all circumstances,
so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make
rational decisions about when each of the teaching strategies is likely to most
effective.
Apa yang dikemukakan Killen itu jelas bahwa guru harus mampu memilih
strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh sebab itu, guru perlu
memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut.
Berorientasi pada Tujuan
Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestinya diupayakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses
yang bertujuan. Oleh karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat
ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
Aktivitas
Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah
berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta
didik.
Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun
kita mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin
kita capai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.
Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi
peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja,
tetapi juga meliputi aspek afektif, dan psikomotorik.
Prinsip khusus dalam pengelolaan pembelajaran sebagai berikut.
Interaktif
Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekadar
menyampaikan pengetahuan dari guru ke peserta didik; akan tetapi mengajar
dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang peserta
didiik untuk belajar. Dengan demikian, proses pembelajaran adalah proses
interaksi baik antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dan peserta
didik, maupun antara peserta didik dengan lingkungannya. Melalui proses
interaksi, memungkinkan kemampuan peserta didik akan berkembang, baik mental
maupun intelektualnya.
Inspiratif
Proses pembelajaran adalah proses yang inspiratif, yang memungkinkan
peserta didik untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Berbagai informasi dan
proses pemecahan masalah dalam pembelajaran bukan harga mati, yang bersifat
mutlak, akan tetapi merupakan hipotesis yang merangsang peserta didik untuk mau
mencoba dan mengujinya. Oleh karena itu, guru mesti membuka berbagai
kemungkinan yang dapat dikerjakan peserta didik. Biarkan peserta didik berbuat
dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sendiri, sebab pengetahuan pada
dasarnya bersifat subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap peserta didik.
Menyenangkan
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi
peserta didik. Seluruh potensi itu hanya mungkin dapat berkembang manakala
mereka terbebas dari rasa takut dan menegangkan. Oleh karena itu, perlu
diupayakan agar proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan (joyfull
learning). Proses pembelajaran yang menyenangkan bisa dilakukan, pertama,
dengan menata ruangan yang apik dan menarik, yaitu yang memenuhi unsur
kesehatan, misalnya dengan pengaturan cahaya, ventilasi, dan sebagainya; serta
memenuhi unsur keindahan, misalnya cat tembok yang segar dan bersih, bebas dari
debu, lukisan dan karya-karya peserta didik yang tertata, vas bunga, dan lain
sebagainya. Kedua, melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi,
yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media, dan sumber belajar
yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu membangkitkan motivasi
belajar peserta didik.
Menantang
Proses pembelajaran adalah proses yang menantang peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal.
Kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu
peserta didik melalui kegiatan mencoba-coba, berpikir secara intuitif atau
bereksplorasi. Apa pun yang diberikan dan dilakukan guru harus dapat merangsang
peserta didik untuk berpikir (learning how to learn) dan melakukan (learning
how to do). Apabila guru akan memberikan informasi, hendaknya tidak memberikan
informasi yang sudah jadi yang siap dikonsumsi peserta didik, akan tetapi
informasi yang mampu membangkitkan peserta didik untuk mau “mengunyahnya”,
untuk memikirkannya sebelum ia mengambil kesimpulan. Untuk itu, dalam
hal-hal tertentu, sebaiknya guru memberikan informasi yang “meragukan”,
kemudian karena keraguan itulah peserta terangsang untuk membuktikannya.
Motivasi
Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan peserta
didik. Tanpa adanya motivasi, tidak mungkin mereka memiliki kemauan untuk
belajar. Oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan
tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Motivasi dapat diartikan sebagai
dorongan yang memungkinkan peserta didik untuk bertindak atau melakukan
sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri peserta didik manakala
mereka merasa membutuhkan (need). Peserta didik yang merasa butuh akan
bergerak dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab, itu dalam
rangka membangkitkan motivasi, guru harus dapat menunjukkan pentingnya
pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan peserta didik, dengan demikian
peserta didik akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau
pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya.
Rangkuman
- Ada dua hal yang
patut dicermati dari pengertian-pengertian strategi pembelajaran Pertama, strategi
pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam
pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada
proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua,
strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua
keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan.
- Model pembelajaran
adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan
para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”
- Pendekatan dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya
proses yang sifatnya masih sangat umum
- Metode diartikan
sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan
tertentu. Dalam kaitannya dengan pembelajaran metode didefinisikan sebagai
cara-cara menyajikan bahan pelajara pada peserta didik untuk tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan
- Teknik dan taktik
mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah
cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode
yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan
efektif dan efisien. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu
teknik atau metode tertentu. Dengan demikian, taktik sifatnya lebih
individual.
- Komponen strategi
pembelajaran adalah; guru, siswa, tujuan, bahan pelajaran, kegiatan
pembelajaran, metode, alat, sumber pembelajaran dan evaluasi
- Komponen-komponen
strategi pembelajaran akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu,
semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap strategi pembelajaran.
- Faktor yang
mempengaruhi strategi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu
peserta didik, sebagai raw input, instrumental input atau
sasaran, enviromental input ( lingkungan).
- Strategi
pembelajaran efektif: berorentasi pada tujuan. aktivitas, individualitas,
integritas, motivasi, menantang. menyenangkan, inspiratif, interaktif
Be the first to like this post.
MAcam -Macam Pendekatan
PeMBELajaRan
1. PENDEKATAN KONSTEKTUAL
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education,2001).
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar,manfaatnya,dalam
status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari
bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga,akan
membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal
yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya
Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan
kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran
yang efektif yaitu konstruktivisme,bertanya,menemukan,masyarakat
belajar,pemodelan,refleksi,penilaian sebenarnya.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar
yang penting,yaitu:
1.Mengaitkan adalah
strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan
strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal
siswa. Jadi dengan demikian,mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan
informasi baru.
2. Mengalami merupakan inti
belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru
dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih
cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan
bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu
konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi
siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4. Kerjasama. Siswa yang bekerja
secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan.
Sebaliknya,siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah
yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti
siswa mempelajari bahan ajar,tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer. Peran guru membuat
bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan
2. PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME
Pendekatan konstruktivisme
merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat
kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi
pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan
dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar
yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan
sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu ,guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkankemampuansiswasecarapribadi.
Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu ,guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkankemampuansiswasecarapribadi.
Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang
pembelajar dalam memberikan arti,serta belajar sesuatu melalui aktivitas
individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang
konstruktivisme,namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis,misalnya
pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir
konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam
pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial);sedangkan yang lain seperti
Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan
individu,kepercayaan,konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa
disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi
manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan
strateginya
Konstruktivisme social
Berbeda dengan Piaget,Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara
sosial,yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat
secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan
berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial,alat-alat
budaya,dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar
individual.
Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme
1.
Dengan adanya pendekatan
konstruktivisme,pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan
oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung
sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan
menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
2.
Antara
pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang
ada dalam diri siswa.
3.
Setiap siswa mempunyai
peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
4.
Peran guru hanya sebagai
pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta
memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang
dipelajari
Deceng (dalam web http://deceng.wordpress.com)
3. PENDEKATAN DEDUKTIF
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang
menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion)
berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang
kompleks,peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif
sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum
kesesuatuyangkhusus.
http://zalva-kapeta.blog.spot.coml
http://zalva-kapeta.blog.spot.coml
Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan
umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan
menyajikan aturan,prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh khusus atau
penerapan aturan,prinsip umum ke dalam keadaan khusus.
4. PENDEKATAN INDUKTIF
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu,lalu menarik
kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah
pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum.
Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan
khusus menuju keadaan umum
APB Statement No. 4 adalah contoh dari penelitian induksi,Statement ini
adalah suatu usaha APB untuk membangun sebuah teori akuntansi. Generally
Accepted Accounting Principles (GAAP) yang dijelaskan di dalam
pernyataan (statement) dibangun berdasarkan observasi dari praktek yang
ada.
PerbedaanPendekatanDeduktifdanInduktif
Teori normatif (normative theory) menggunakan pertimbangan nilai (value judgement) yang berisi satu atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh. Sebagai contoh,premis yang menyatakan bahwa laporan akuntansi (accounting reports) seharusnya didasarkan kepada pengukuran nilai aset bersih yang bisa direalisasi (net realizable value measurements of assets) merupakan premis dari teori normatif. Sebaliknya,teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk menemukan hubungan yang sebenarnya terjadi.
Teori normatif (normative theory) menggunakan pertimbangan nilai (value judgement) yang berisi satu atau lebih premis menjelaskan cara yang seharusnya ditempuh. Sebagai contoh,premis yang menyatakan bahwa laporan akuntansi (accounting reports) seharusnya didasarkan kepada pengukuran nilai aset bersih yang bisa direalisasi (net realizable value measurements of assets) merupakan premis dari teori normatif. Sebaliknya,teori deskriptif (descriptive theory) berupaya untuk menemukan hubungan yang sebenarnya terjadi.
5. PENDEKATAN KONSEP
Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai
konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi).
Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang
sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara
langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk
menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.
Ciri-ciri suatu konsep adalah:
a.Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
b.Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung
c.Konsep berbeda dalam isi dan luasnya
d.Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalarnan
e Konsep yang benar membentuk pengertian
f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ‘ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan
pendekatan konsep adalah:
a.Menanti kesiapan belajar,kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
b.Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah
dimengerti.
c.Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula
sampai konsep yang komplek.
d Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu,
a.Tahap enaktik
Tahap enaktik dimulai dari:
– Pengenalan benda konkret.
– Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman
baru.
– Pengamatan,penafsiran tentang benda baru
b.Tahap simbolik
Tahap simbolik siperkenalkan dengan:
– Simbol,lambang,kode,seperti angka,huruf. kode,seperti (?=,/) dll.
– Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap
apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.
– Memberi nama,dan istilah serta defenisi.
c.Tahap ikonik
Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak,seperti:
– Menyebut nama,istilah,defmisi,apakah siswa sudah mampu
mengatakannya
6. PENDEKATAN PROSES
pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu
konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan
hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai
proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan
kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan
proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan
dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah
proses yang mencakup kebenaran cara kerja,ketelitian,keakuratan,keuletan dalam
bekerrja dan sebagainya.
7. PENDEKATAN SAINS,TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT
Pendekatan Science,Technology and Society (STS) atau
pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara
pendekatan konsep,keterampilan proses,CBSA,Inkuiri dan diskoveri serta
pendekatan lingkungan. (Susilo,1999). Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM)
dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS),Science Technology
Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat.
Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang
dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM)
merupakan pendekatan terpadu antara sains,teknologi,dan isu yang ada di
masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta
didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,sehingga mampu mengambil
keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil
tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan
konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam
struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.

0 komentar:
Posting Komentar